Renungan

WHAT MONEY CAN BUY?

money-stacks

A BED BUT NOT SLEEP

COMPUTER BUT NOT BRAIN

FOOD BUT NOT APPETITE

FINERY BUT NOT BEAUTY

A HOUSE BUT NOT A HOME

MEDICINE BUT NOT HEALTH

LUXURIES BUT NOT CULTURE

AMUSEMENTS NUT NOT HAPPINESS

ACQUINTANCE BUT NOT FRIENDS

OBEDIENCE BUT NOT FAITHFULLNESS

SEX BUT NOT LOVE

3 Responses to Renungan

  1. BAGI pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggia

    n 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.
    Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!

    “Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia,” jelas ahli geologi Fransiskus Benediktus Widodo Margotomo saat memaparkan sejarah terbentuknya Pulau Papua.

    Keberadaan Pulau Papua saat ini, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.

    “Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari,” tambah sarjana geologi jebolan Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta, pada 1986 ini.

    Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, sambungnya, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.

    Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

    Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.

    Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.
    Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologi dunia.

    Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.

    “Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru,” tambah peraih gelar master di bidang Economic Geology dari James Cook University, Townswille, Australia ini.

    Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.

  2. Cartensz Papua Mulai Hilang Nawipa Demmy…AkibatPemanasan Global, Petani Hadapi Masa Sulit1700Ilmuwan Inggris Lindungi Bukti Pemanasan GlobalPresidenEkuador: Bayar Kami, Hutan Amazon Aman26/06/2010 10:00Liputan6.com, Timika:Pemanasan global memperlihatkan dampaknya. Dalam waktu 20 hingga 30tahun ke depan, gletser di G…unung Cartensz, dekat Puncak Jaya, Papua,diperkirakan akan hilang akibat pemanasan global. Perkiraan inidisampaikan peneliti inti es Papua, Prof Lonnie G. Thompson, Sabtu(26/6), di Timika.Menurut Thompson yang juga guru besar di Ohio State University, selama13 hari berada di Papua, gletser di Cartensz mengalami penurunan 30sentimeter. Dia memperkirakan setiap tahun gletser Papua hilangbeberapameter.Thompson menambahkan, proses pencairan es pada gletser Papua sangatcepat akibat faktor iklim. Soalnya, setiap hari selalu turun hujan dikawasan tersebut. “Benar kalau gletser di sini kemungkinan akan cepathabis karena setiap hari turun hujan. Hujan merupakan faktor cuaca yangpaling cepat menghabiskan gletser,” kata Thompson, seperti ditulis Antara.Selama
    berada di kawasan gletser Papua, Thompson dan rekan-rekannya mengambil
    sampel 88 meter Ice Core dengan mengebor enam inti essampai dasar
    es. Mereka lalu memotong-motong es menjadi satu meter dan dimasukan ke
    dalam freezer untuk diteliti lebih lanjut di Ohio State University.Hasil penelitian mereka diperkirakan akan selesai akhir 2010 dandipublikasikan sekitar Juni 2011. “Misi pengambilan sampel es ini untukmendapatkan informasi iklim yang masih ada di gletser Papua, sebeluminformasi iklim itu akan hilang semua,” jelas Thompson.Suhu rata-rata di kawasan gletser Papua, kata Thompson, pada siangmaupun malam hari berkisar pada lima derajat Celcius hingga minus limaderajat Celcius di bawah 0. Dia juga menyebut gletser yang ada dipegunungan Papua merupakan yang paling rendah di dunia.Proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 yang dilakukan Thompsonterjadi atas kerja sama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika(BMKG) dengan Byrd Polar Research Center (BPRC) The Ohio StateUniversity. Tim ini beranggotakan sejumlah peneliti dari AmerikaSerikat, Rusia, Prancis, dan Indonesia. Selama di Papua, merekamenelititiga titik gletser, yakni Cartensz, E.Nortwall Firs, dan W.NorthwallFirs yang juga hampir habis atau hilang.(ULF)http://berita.liputan6.com/sosbud/201006/283373/Gletser.Cartensz.Papua.Mulai.Hilang

  3. ryan aristo says:

    pak demianus nawipa, kenapa hujan itu merupakan faktor cuaca yg paling cepat menghabiskan gletser pak ?
    sedangkan yg saya tau gletser itu adalah bongkahan es besar yg terbentuk di atas permukaan tanah, bukankah panas matahari lebih mempercepat proses penipisan gletser itu pak ?
    mohon pencerahannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: