Selamat Tinggal Cicak

Aku kaget melihat sekelebat makhluk kecil berjalan dibawah kasurku, ternyata dia adalah bayi cicak yang sepertinya baru berumur beberapa minggu, ukurannya setengah jari kelingking-ku, berwarna coklat muda, lucu, imut, manis, dan berlesung pipi *lhoo..*

Cicak ini tidak pernah lari ketika melihatku masuk ke dalam kamar, agak aneh juga kenapa kami bisa akrab secepat ini, padahal keakraban biasanya dibangun dari proses yang panjang. Aku sendiri tidak terganggu dengan keberadaan cicak tersebut, lumayan ada yang nemenin di kamar.

Hari demi hari berlalu, kami lewati bersama dengan bahagia, dan si cicak tumbuh besar dengan cepat sehingga sekarang ia sudah menjadi remaja cicak yang selalu ceria. Sering aku tidak menjumpainya dikamar, aku pikir cicak remaja juga butuh bergaul dengan teman-teman seusianya, tidak baik jika aku terlalu mengekangnya di kamar ini, aku tidak boleh terlalu posesif dengan si cicak.

Hingga pada suatu malam, aku mendapatinya pulang ke kamar pukul 04.30 WIB. Aku tanya sama dia “Heh, darimana saja kamu baru pulang jam segini? kamu dugem ya sama cicak cabe-cabean kamar sebelah?!”, tapi si cicak hanya diam tak mengeluarkan satu kata-pun, lalu ia berlalu dari hadapanku, pergi ke kamar mandi. Aku mengejarnya, bukan untuk memarahinya tapi untuk mengambil wudhu, ketika aku membuka pintu kamar mandi ia-pun kaget, dan langsung berlari menuju lubang angin, sepertinya ia salah sangka.

Sejak kejadian subuh itu, aku tidak pernah menjumpai cicak itu lagi, sepertinya ia marah kepadaku, dan aku yakin ini hanya salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu. Sampai akhirnya pagi tadi aku menjumpai cicak itu lagi di kamar mandi, tempat dimana kami terakhir kali bertemu. Aku terperangah karena tubuhnya membesar, ada bulatan di perutnya, ia hamil!

Aku merasa bersalah, karena selama ini aku tidak mencarinya sehingga dia mungkin terlibat pergaulan bebas dengan cicak cabe-cabean kamar sebelah. Aku tidak melihat ada cicak jantan yang mengantarkannya pulang ke kamarku, dia hanya pulang sendiri membawa telur cicak di dalam perutnya, dasar cicak jantan tak bertanggungjawab!

Kami hanya saling berpandangan dalam diam, aku masih melanjutkan memindahkan barang-barangku ke dalam koper, dalam beberapa hari ke depan aku akan meninggalkan kamar ini. Ingin rasanya aku membawa cicak itu pergi bersamaku, tapi tampaknya ia lebih memilih hidup dekat dengan cicak cabe-cabean kamar sebelah, sehingga aku harus rela melepaskannya pergi.

selamat tinggal cicak, terimakasih untuk hubungan singkat ini, aku sedih kita harus pisah, tapi setidaknya aku senang dan bahagia bisa mengenalmu. Sekarang kita telah memilih jalan masing-masing, aku pindah ke depok sedangkan kamu masih disini, ditempat yang membuatmu nyaman dan bebas. See you when I see you..

IMG-20160406-WA0004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: