Membawa Pesan Geologi, Menjelajah Nusantara

“Memangnya bencana alam bisa dicegah?” Tanya seorang teman saat makan malam dengan saya kemarin.

Sabtu, 25 April 2015 kemarin dunia dikagetkan dengan gempa besar skala 7.9 SR di Nepal, gempa tersebut telah memakan korban jiwa hingga lebih dari 8,000 orang, ditambah lagi banyak bangunan warisan budaya yang hancur rata dengan tanah. Jika kita lompat ke masa lalu, tepat satu tahun sebelum gempa Nepal itu terjadi, gempa yang lebih besar (8.2 SR) juga terjadi di Cile Utara, akan tetapi jumlah korban jiwa yang diakibatkan bencana tersebut hanya 6 orang, jauh dibawah korban gempa Nepal, mengapa itu bisa terjadi? Itu karena Cile sudah pernah merasakan gempa besar tahun 1960 dengan korban jiwa 5.500 orang, setelah itu mereka berbenah mempersiapkan diri dan lingkungan dari ancaman bencana yang akan datang. 

Di Indonesia, dalam kurun waktu 3 bulan terakhir diramaikan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di berbagai kota, sebut saja Gunung Gamalama, Gunung Raung, dan Gunung Sinabung yang mulai menunjukkan aktivitas erupsinya sehingga beberapa bandara harus menghentikan aktifitas penerbangan pesawat. Selain ancaman gunung api, beberapa daerah di Indonesia mulai merasakan goncangan gempa, contohnya gempa 5.7 SR di tenggara Ciamis, gempa 6.3 SR di pesisir selatan Jawa Timur, dan gempa 7.2 SR di Membramo Raya. Ditambah lagi, dalam waktu dekat kita akan memasuki musim penghujan, sehingga bencana banjir dan tanah longsor juga akan menyerang beberapa wilayah langganannya di Indonesia. Apa yang terjadi di Nepal dan Cile tentu harus kita ambil pelajaran dari sana, agar dampak buruk bencana dapat diminimalisir.

Public Awareness

Pemerintah memang telah menyiapkan banyak teknologi mitigasi bencana, dari mulai Early Warning System Tsunami, pos pemantauan status gunung api, sampai ke pemetaan daerah rawan bencana, akan tetapi teknologi tersebut akan percuma jika tidak didukung oleh kesadaran masyarakat, public awareness adalah masalah besar di negeri ini. Tempo hari saya baca berita, bahwa ada pendaki Gunung Merapi yang nekad naik ke puncak meskipun sudah dilarang oleh otoritas pemantau Merapi, bahkan pendaki ini malah menginjak alat pemantau aktivitas Gunung Merapi, menurut saya orang seperti ini nilai public awareness nya minus!

Public awareness adalah soal mentalitas, program Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintahan sekarang saya pikir wajib didukung, saya dan teman-teman Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) sepakat untuk turun tangan membantu pemerintah dalam meningkatkan public awarness masyarakat dalam hal kebencanaan. Target kami adalah memberikan pendidikan tanggap bencana sejak dini kepada anak-anak sekolah dasar di daerah yang rawan bencana. Kenapa anak-anak? Karena mentalitas dan karakter ini harus ditanamkan sejak dini (alasan lainnya karena mentalitas orang dewasa sulit untuk diubah).

Pendidikan Bencana di Sekolah Dasar

Bulan lalu, di gedung tempat saya bekerja dilakukan fire dril (simulasi bencana). Kegiatan ini rutin dilakukan 2 kali dalam setahun, dan saya yakin semua gedung tinggi di Jakarta selalu mengadakan kegiatan simulasi bencana ini. Setiap gedung memiliki sistem penanganan bencana, ada tim yang dibentuk dan diberikan pelatihan khusus. Saya sendiri merupakan bagian dari Emergency Response Team (ERT) di gedung tempat saya bekerja, jadi saya tahu peran yang harus dijalankan ketika sewaktu-waktu bencana terjadi di lingkungan kantor.

Saya lahir dan besar di daerah yang sering dilanda gempa bumi yaitu Bengkulu. Sewaktu saya kelas 6 SD terjadi gempa yang cukup besar ketika kami sedang belajar di dalam kelas, waktu itu guru saya lari duluan dan teman-teman panik dan rebutan untuk keluar kelas, bahkan ada yang lewat jendela, ada juga yang lompat dari lantai 2 gedung sekolah sehingga patah kakinya. Saya membayangkan jika saja dulu sekolah saya melakukan kegiatan simulasi bencana rutin seperti yang dilakukan di gedung-gedung tinggi Jakarta, mungkin kepanikan dan kegaduhan tersebut tidak terjadi. Perangkat kelas yang semula hanya terdiri dari Ketua Kelas, Wakil, Sekretaris, dan Bendahara, juga harus dilengkapi dengan floor warden, fire suppressor, dan first aider yang berperan sebagai Emergency Response Team kelas tersebut. Ini hanya impian saya saja, yaitu menjadikan pendidikan tanggap bencana ada di setiap sekolah, semoga teman-teman yang se-ide bisa mewujudkannya suatu hari nanti, hari dimana kalian duduk di pemerintahan.

FGMI Jelajah Nusantara

Saya dan teman-teman ahli kebumian yang tergabung dalam Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) berencana untuk melakukan pendidikan bencana tersebut ke sekolah-sekolah dasar di daerah yang rentan terkena bencana alam, untuk edisi perdana ini kami akan mengunjungi Desa Karya Mukti, sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Padang, dan dekat dengan Patahan Cimandiri, sehingga berpotensi untuk terjadinya bencana longsor dan gempa bumi.

Dengan menggandeng Klub Dongeng Forum Indonesia Muda, kami mengemas pendidikan bencana ini dengan cara yang asyik, salah satunya dengan cara mendongeng. Mendongeng adalah cara terbaik untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak, Davic c. McClelland dalam bukunya “The Achieving Society” menyebutkan bahwa dongeng-dongeng di Eropa dan Amerika terbukti menjadi inspirasi bagi individu masyarakat disana berani mengembara dan berlomba untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dengan alasan itulah kami membuatkan dongeng tentang perjuangan seorang dinosaurus dalam menghadapi bencana alam untuk menghindari kepunahan, harapannya nilai-nilai pendidikan bencana bisa dengan mudah diterima oleh anak-anak.

Yuk Berdonasi

Saya kagum dengan kedermawanan orang-orang Indonesia, ketika bencana alam terjadi maka tidak sulit untuk mengumpulkan donasi. Kantong SCT* peduli, RCT* peduli, Indosia* peduli, dan “rombongan peduli” lainnya bisa mengumpulkan ratusan juta rupiah dari para dermawan, apalagi jika lagu Ebiet G Ade dan Opick diputar berulang-ulang (dengan latar video anak kecil dan lansia korban bencana yang menangis) maka dalam waktu singkat bisa miliaran rupiah donasi yang terkumpul, yang nantinya akan dibelikan indomie, baju, selimut, pampers, softex, dll.

Berdonasi tidak hanya bisa dilakukan ketika bencana terjadi, berdonasi ketika bencana belum terjadi juga merupakan wujud kepedulian kita kepada sesama manusia. Rp.50,000,- yang anda donasikan pada saat terjadi bencana mungkin hanya akan cukup membeli 20 bungkus indomie, akan tetapi jika didonasikan sekarang mungkin akan bisa membuat 20 orang anak selamat dari runtuhan bangunan, akan membuat saluran air Desa Karyamukti menjadi lancar untuk dialiri sehingga mengurangi potensi longsor, menjadi bagian dari program penghijauan desa, dan secara tidak langsung anda juga menjadi guru yang menyampaikan pesan tanggap bencana melalui buku dongeng yang akan mereka baca.

Yuk berdonasi untuk FGMI Jelajah Nusantara via https://kitabisa.com/jelajahnusantara

 

“Ooh oke, sekarang aku paham. Kita memang tidak bisa menghentikan bencana alam, akan tetapi dengan pendidikan tanggap bencana sejak dini, kita bisa meminimalisir dampak negatif dari bencana tersebut. Waah aku mau bantu donasi dari sekarang ah!” kata teman saya tersebut.

“Sekalian aja ikutan acara FGMI Jelajah Nusantara, kegiatan sosial ini juga dibarengi sama acara fieldtrip geoarkeologi, menikmati sunrise, pertunjukan seni, kuliner tradisional, dan lain-lain. Jadi kita kita bisa berwisata sambil berkegiatan sosial” saya mengakhiri obrolan santai malam itu dengan mengajak teman saya tersebut untuk ikut acara FGMI Jelajah Nusantara

 gunung padang

Salam,

yang sedang belajar Geologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: