Panggil Aku Paman

Jika kau selalu merasa rindu, tidak pernah jemu memandang wajahnya ketika sedang berjumpa, selalu tersenyum bahagia melihatnya melakukan hal-hal kecil yang bagi sebagian orang mungkin terkesan jorok (bersin, kentut, bahkan berak), maka aku pastikan bahwa kau sedang jatuh cinta, sama seperti yang aku rasakan saat ini.

Jumat 26 Juni 2015 pukul 07.00 WIB, bertepatan dengan hari ke-9 puasa Ramadhan 1436 H, telah lahir jagoan kecil kesayanganku, keponakan pertamaku, Adzka Siddiq Bagaskara namanya. Meski lahir lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, Alhamdulillah Adzka dan Ibu-nya tetap sehat tanpa kurang suatu apapun.

Seakan tidak ingin kalah dengan orang tua kandungnya, saya-pun telah berpikir eras beberapa hari belakangan ini, yaitu menentukan akan dipanggil apa aku oleh Azka nanti ketika ia sudah bisa berbicara. Aku ingin menjadi orang yang spesial untuk Azka, untuk itu aku tidak ingin dipanggil dengan sebutan yang sudah terlalu umum, yaitu “Om”.

“Om” adalah panggilan yang sangat umum di Indonesia, panggilan tersebut juga tidak khusus diperuntukkan kepada orang yang memiliki hubungan darah, bahkan anak-anak di pinggir jalan sering kali memanggilku “om” meski aku tidak mengenali mereka. Selain itu, menurutku panggilan “Om” juga telah mengalami peyorasi (perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih rendah dari sebelumnya), contohnya saja panggilan “om-om genit”, dan “om-om hidung belang” yang berkonotasi negatif. Ditambah lagi, kata “Om” tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehingga atas dasar semua itulah saya tidak ingin dipanggil “om” oleh keponakanku yang spesial ini.

Kemarin, paman datang, pamanku dari desa, dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa

Sepenggal bait lagu diatas selalu terngiang di kepalaku, karena itu adalah salah satu lagu kesukaanku dulu. Hingga saat ini, kata “Paman” masih terdengar asing ditelingaku, karena sedari kecil aku tidak memiliki orang yang kupanggil dengan sebutan paman. Aku memiliki banyak Om, lalu ada juga Pakde, Pakwo, Pakcik, dan Uwak, akan tetapi mengapa tidak ada orang yang bisa kupanggil dengan sebutan paman? Padahal paman adalah kata resmi yang tercetak di KBBI, akan tetapi panggilan itu lebih banyak kudengar dari film-film kolosal, ataupun lagu-lagu anak. Maka dari itu, saya telah memutuskan untuk setidaknya melestarikan kata “paman” sehingga tidak punah dari Indonesia, mulai besok Azka akan memanggilku Paman.

Tumbuhlah jadi anak yang soleh, pintar, berkarakter, dan selalu menjadi kebanggaan kedua orang tuamu, termasuk juga pamanmu. Semoga kita bisa menjadi teman bermain yang asyik, dan aku akan berusaha untuk menjadi paman terbaik untukmu. Meskipun nanti kamu punya banyak om, pakdhe, paklek, pakwo, pakcik, dan uwak, tapi kamu hanya akan punya satu paman, yaitu paman Avel.

 azka

Salam,

yang sedang belajar menjadi paman

One Response to Panggil Aku Paman

  1. Afdil says:

    Halo pamannya azka ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: