(bukan) Dongeng Geologi

Mendadak dongeng

Cerita ini berawal dari perjalanan ku mengikuti blind travel ke Lampung bulan Maret 2014 silam. Bersama dengan lebih kurang 20 orang peserta lainnya, kami melakukan wisata antimainstream yang tujuannya dirahasiakan, kami hanya diberi amplop yang berisi uang 25 ribu dan alamat kota tujuan yang harus kami tuju, yaitu Lampung!
Di Lampung, kami menginap di rumah belajar (Rumbel) yang diinisiasi oleh Forum Indonesia Muda regional Lampung. Disana kami ditugaskan untuk menemani anak-anak rumbel bermain, dan saya didaulat secara sepihak untuk menjadi MC di acara tersebut. Secara spontan saja saya mengeluarkan semua games yang saya punya, akan tetapi karena waktu yang diberikan cukup panjang (sekitar 3 jam), maka tidak hanya koleksi games saya saja yang habis, akan tetapi stamina juga menurun. Sampai pada akhirnya saya capek dan memutuskan untuk duduk diantara kerumunan adik-adik rumbel yang baterai-nya masih full charge. Mereka tidak membiarkan saya istirahat dengan tenang, meminta untuk bermain lagi, sampai akhirnya mataku menangkap sebuah buku cerita yang sedang digenggam salah seorang anak, dan saya memutuskan untuk membacakan cerita saja ke mereka. Alhamdulillah, mereka semua tertarik untuk di-dongeng-in, dan duduk manis (untuk sementara waktu) di depan saya.

Sebenarnya yang saya lakukan hanya membacakan cerita dengan ditambah sedikit ekspresi lebay dan suara-suara aneh yang ternyata membuat beberapa anak duduk tenang menikmati. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, itu artinya waktu bermain sudah usai, dan kamipun mengucapkan salam perpisahan dengan adik-adik rumbel lampung.

4 bulan kemudian

Hallo kak, saya erni yang kemarin ikutan blind travel. Hari sabtu besok bisa nge-dongeng di cibubur gak? Kita ada acara Pesantren Kilat Anak Marjinal, dengan melibatkan 30 anak jalanan.

Sms itu sontak membuat saya langsung tertawa. Gue? Diundang nge-dongeng?! Hahaha..

Ini adalah kali pertama saya diundang untuk acara yang audiensnya anak-anak berumur dibawah 13 tahun. Acara ini di-inisiasi oleh Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA), mendengar profilnya yang unik, serta tantangan untuk meng-handle anak-anak jalanan membuat saya memutuskan untuk menerima undangan tersebut, new challenge means new opportunity. Pada awalnya saya meminta bantuan ke teman-teman di Klub Dongeng, akan tetapi karena mereka semua sedang sibuk akhirnya saya datang sendiri ke lokasi acara di Bumi Perkemahan Cibubur. Referensi dongeng saya sendiri tidak banyak, hanya ada 1, yaitu ketika saya menyaksikan Rona Mentari (Storyteller professional) mendongeng di kantor saya tahun lalu.

Pantun! Selalu saja menjadi salam pembuka yang sangat bisa diandalkan untuk mencairkan suasana di awal. Lalu saya melanjutkan dengan ice breaking kecil yang tidak melibatkan aktivitas fisik, sekedar untuk membuat mereka lebih dekat dan nyaman dengan saya. Setelah itu barulah dongeng ini dimulai. Sebelumnya, panitia telah mengingatkan saya bahwa anak-anak baru saja melakukan aktifitas fisik seharian, sehingga mungkin mereka capek, makanya pada tidur-tiduran di tikar. Firasat buruk nih, ada potensi gw bakal dicuekin dan ditinggal tidur. Sampai pada akhirnya ada seorang anak yang berteriak “Kak, cerita tentang kura-kura dong!” Aha!! Eureka!! Suatu kebetulan yang baik, karena saya memang menyiapkan cerita tentang kancil dan kura-kura dengan beberapa modifikasi, “Mau cerita tentang kura-kura? Oke sekarang kakak akan cerita tentang kura-kura”

Bukan hal yang mudah menangani anak-anak yang “super aktif” seperti mereka, ada yang lari-lari, ada yang hobinya nyeletuk, ada yang tidur-tiduran, ada juga yang duduk serius mendengar. Alhamdulillah dongeng selesai saya bawakan dalam waktu sekitar 30 menit, yah saya tidak tahu apa yang ada di benak anak-anak itu, saya juga tidak bisa menilai dongeng yang saya bawakan tersebut sukses atau tidak, tapi ada satu parameter terukur yang bisa membuat saya pulang dengan senyum puas, yaitu ketika semua anak mampu mengingat detil cerita yang saya bawakan.

1405782364214

suasana di tempat mendongeng

Baiklah, sekarang kak avel mau bertanya ke kalian semua, siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan? Kura-kuraaaa.. jawab mereka serentak
Mengapa kancil bisa kalah? Karena kancil sombong, karena kancil tidak bisa berenang, karena kancil ketiduran.. masing-masing anak punya analisis sendiri-sendiri
Apa nama desa tempat mereka berlomba? Desa bahagiaaa.. jawab mereka kompak
Berapa waktu yang dibutuhkan kancil dan kura-kura ke garis finish jika mereka bekerja sama? 30 meniiitt.. Wow, bahkan mereka ingat detil angka yang hanya saya sebutkan sekali di dalam cerita
Bagaimana akhir cerita kancil dan kura-kura? Mereka bersahabat, kancil tidak meremehkan kura-kura lagi, mereka saling tolong menolong. Jawab mereka berbeda-beda, tapi yang penting mereka semua mendapati kesimpulan akhir cerita yang positif.

Ini ajaib! The power of ‘dongeng’ ternyata impact-nya cukup powerfull, ini adalah media belajar-mengajar yang paling efektif untuk anak-anak. Dongeng membuat anak kinestetik mudah mencerna cerita dengan mengingat gerak-gerik sang storyteller, anak auditorik mudah mengingat cerita dari tiap nada yang storyteller mainkan, anak visual tentunya akan dimudahkan menyimpan memori cerita tersebut dari act out yang storyteller peragakan.

Saya jadi ingat guru geologi favorit saya, Dr.Andang Bachtiar. Dia adalah seorang seniman, dan juga pemain teater, suaranya lantang dan orangnya sangat ekspresif! Saya jadi tahu alasan mengapa saya sangat mudah menyerap ilmu dari dia, itu karena dia selalu menjelaskan sesuatu dengan menggunakan seluruh tubuhnya. Ia memanjat, menunduk, berteriak, menggambar, bahkan tidur-tiduran dilapangan untuk menjelaskan proses geologi di alam.

Hari itu, setidaknya saya mendapat satu keyakinan baru, bahwa bercerita adalah media komunikasi terbaik.
Maka dari itu, yuk kita mendongeng.

IMG_20140719_221514

KOPAJA memberi hadiah untuk saya

salam,

yang sedang belajar GEOLOGI

One Response to (bukan) Dongeng Geologi

  1. kamil010290 says:

    keren banget kak avel..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: