Roda Kehidupan

Saya bukanlah manusia yang dianugerahi usus yang panjang ataupun lemak yang bertumpuk. Sejak kecil memang saya termasuk golongan anak-anak yang susah makan.

Vel, makan lo dikit amat. Makan yang banyak biar badan lo gede

–> gw makan cuma sebagai syarat hidup doang kok, hehe..

Sadar dengan porsi makan yang tidak banyak, saya pun tidak pernah mengambil makanan secara berlebihan, baik di warung ataupun di acara kondangan. Akan tetapi, tetap saja terkadang saya tidak mampu untuk menghabiskan makanan yang sudah terlanjur tersaji di piring saya.

Kalau masih kecil dulu, ibu sering mengatakan bahwa butir-butir beras yang saya sisakan akan menangis jika tidak dihabiskan. Di bangku kuliah beda lagi, teman-teman selalu mengatakan “ada banyak orang yang tidak makan diluar sana vel, jangan sisakan makanan“. Walaupun merasa tidak enak hati, tapi apa mau dikata, perut sudah tidak dapat dipaksa.

Sampai akhirnya kemarin malam, ada kalimat yang keluar dari calon kakak ipar saya yang sangat menohok dan menimbulkan rasa berdosa yang besar bagi saya yang tidak mampu menghabiskan makanan.

Jangan asal membuang makanan, roda kehidupan itu berputar, sekarang kita sedang berada di atas sehingga merasa sombong untuk membuang makanan, siapa yang bisa memastikan roda kita selalu diatas? Jika besok Allah memutar roda kehidupan kita kebawah, apakah kita masih bisa sombong??

Ternyata hati ini cukup terguncang mendengarnya, di-cap sombong sama manusia aja saya tak bisa tidur, apalagi kalau di-cap sombong sama Allah, alangkah berdosanya diri ini.

Teringat khutbah jumat minggu lalu:  seorang miskin yang belang kulitnya sehingga jijik orang melihatnya didatangi oleh malaikat, lalu diusap kulitnya oleh malaikat sehingga putih bersih rupanya, diberikan pula kepadanya unta yang memenuhi ladang. Setahun kemudian, sang malaikat datang menyamar menjadi musafir miskin yang meminta seekor unta untuk melanjutkan perjalanan, akan tetapi kesombongan membuat ia lupa bahwa di masa lalu ia bukan lah siapa-siapa sehingga enggan dia membantu musafir tersebut. Seketika, malaikat mengembalikan kulitnya yang belang dan melenyapkan unta yang memenuhi ladang.

Semoga kita semua dijauhi dari penyakit hati, dan selalu menghabiskan makanan yang sudah tersaji di piring kita masing-masing🙂

Salam,
yang sedang belajar Geologi

4 Responses to Roda Kehidupan

  1. kamil says:

    makan lo ga banyak? ga ada ya makan banyak itu bisa nular? kalo bisa deket2 gw aja

  2. mibrahim07 says:

    subhanallah terkadang saya juga demikian mas…

  3. niken says:

    kalo kata ibu waktu ku kecil dulu, “makannya diabisin, karena berkahnya justru di akhir sisa makanan”

    salam kenal vel!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: