Indonesia Energy Challenges

“Cadangan minyak bumi terbukti saat ini diperkirakan sebesar 9 miliar barel dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 miliar barel per tahun. Maka, cadangan tersebut dapat habis dalam waktu sekitar 18 tahun,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana pada Seminar Nasional Ketahanan Energi Nasional dan Perubahan Iklim di Jakarta.” (sumber : metrotvnews.com)

“Bukan lautan, hanya kolam susu, kayu dan galah cukup menghidupimu..” Sepenggal lirik dari lagu koes ploes  tersebut menggambarkan betapa kayanya negeri ini. Bak serpihan surga yang jatuh ke bumi, Indonesia memiliki banyak kekayaan alam yang tersebar dari ujung barat pulau sumatera hingga ujung timur pulau papua. Kekayaan alam tersebut sebagai akibat dari hasil tumbukan lempeng Eurasia dan indo-australia 65 juta tahun yang lalu, menghasilkan rentetan pegunungan di sepanjang pulau sumatera, jawa, menerus hingga Sulawesi. Bentukan alam tersebut pada akhirnya menyimpan berbagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan penduduk negeri ini untuk menunjang aktifitas kehidupan mereka.

Dengan kekayaan sumber energi alam tersebut, aneh rasanya jika negeri ini mengalami krisis energi seperti yang terjadi sekarang ini.

Ketergantungan Terhadap Minyak Bumi

Tahun 1885 adalah awal sejarah ditemukannya sumur minyak pertama di Indonesia, tepatnya di daerah Telaga Said, Sumatera Utara. Sejak saat itu pencarian sumber minyakbumi semakin gencar dilakukan, puncaknya pada tahun 1966 Indonesia memulai era massive oil exploration, dimana pada saat itu pemerintah memperkenalkan konsep production sharing contract yang memancing banyak investor asing untuk datang ke Indonesia. Puncaknya pada tahun 1977 Indonesia berada pada masa jaya industri migas ini dengan capaian produksi 1.69 juta barrel minyak per hari, dimana pada saat itu kebutuhan minyak dalam negeri hanya sekitar 250.000 barrel oil per day (BOPD), sehingga Indonesia mampu mengekspor minyak dalam jumlah besar dan industry migas menjadi sector yang sangat penting bagi negeri ini.

Akan tetapi masa kejayaan itu telah berakhir, sejak tahun 2004 Indonesia menjadi negara net-importir minyak, produksi minyak Indonesia tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan dalam negeri. Saat ini produksi minyak Indonesia tidak sampai 900.000 BOPD, sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 1.5 juta BOPD. Untuk menutupi kekurangan tersebut pemerintah mengimport minyakbumi dari luar negeri, terutama timur tengah. Tentu saja ini menjadi beban pemerintah, apalagi pemerintah masih menanggung beban subsidi yang sangat besar, sehingga tidak ada alasan lain untuk mengatakan bahwa ketergantungan terhadap energy minyakbumi harus dikurangi.

Mengembalikan Kejayaan Energi Nasional

Kejayaan energy nasional bisa dicapai jika Indonesia mampu untuk swadaya energy, artinya negeri ini tidak perlu mengimport energy dari luar, bahkan seharusnya Indonesia mampu untuk menjadi Negara pengekspor energy. Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka jalan satu-satunya adalah dengan mengurangi ketergantungan terhadap minyakbumi dengan cara memanfaatkan sumber energy alternative yang ada.

Tiga strategi yang dapat dijadikan solusi adalah: (1.) Konversi penggunakan bahan bakar minyakbumi dengan gas. (2.) Massive oil exploration untuk menjaga penurunan laju produksi minyakbumi yang tajam. (3.) Diversivikasi energi

1.    Era Minyakbumi Berganti dengan Era Gasbumi

Berbeda halnya dengan produksi minyakbumi yang terus menurun, produksi gasbumi terus menanjak dari tahun ke tahun, saat ini total cadangan gasbumi Indonesia sebesar 153 TSCF (sumber: ESDM), atau jika dikonversikan ke dalam satuan barrel yaitu sebesar 25,5 miliar barel oil equivalent, jumlah ini tiga kali lebih besar dibandingan dengan total cadangan minyakbumi Indonesia.

Pemanfaatan gas merupakan harga mutlak yang harus dilakukan dalam menghadapi krisis minyak ini, selain jumlah cadangannya yang cukup melimpah, energy ini lebih bersih dibandingkan dengan minyakbumi.

2.    Massive Oil Exploration

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dalam publikasinya tahun 1985 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan sedimen. Jika dilihat dari persentase produksinya, 50% dari jumlah cekungan di Indonesia bagian barat telah diproduksi dan 14% lainnya belum pernah dibor sama sekali, sedangkan di Indonesia bagian timur hanya 11% cekungan yang sudah di produksi dan masih ada 50% cekungan yang berstatus undrilled (belum dibor). Statistik ini menunjukkan bahwa masih ada banyak potensi minyakbumi yang belum dieksplorasi, eksplorasi hari ini berarti minyakbumi di masa depan. Minyak yang kita nikmati sekarang adalah hasil eksplorasi masif yang dilakukan dalam kurun waktu 1966-1970an, jika eksplorasi masif kembali kita lakukan maka kebutuhan energy minyakbumi dalam kurun waktu 20-30 tahun kedepan akan tetap bisa dinikmati.

 Selain potensi eksplorasi di Indonesia timur yang masih terbuka lebar, potensi peningkatan produksi juga ada di lapangan-lapangan minyak tua di Indonesia bagian barat. Selama ini, teknologi kita hanya mampu mengeluarkan minyakbumi ke permukaan sebesar 15-20% saja dari total sumberdaya yang ada diperut bumi, 80% sisanya tidak mampu kita produksikan. Untuk itu teknologi EOR (enhance oil recovery) harus ditingkatkan penggunaannya agar bisa meningkatkan recovery minyakbumi yang semula hanya 15-20% menjadi 30-50%.

3.    Energy Diversification

Dengan cadangan minyak yang hanya 1% cadangan minyak dunia, tentu saja bukan pilihan yang bijak jika menjadikan minyakbumi sebagai sumber energy utama negeri ini, terlebih biaya subsidi pemerintah terhadap energy ini sangat besar, sehingga sudah sepantasnyalah negeri ini melakukan transformasi energy.

Meminjam istilah Salis S. Aprilian, Phd (Mantan Ketua IATMI), masalah krisis energy ini mirip seperti krisis pangan. Beras yang menjadi panganan pokok di negeri ini semakin menipis dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin banyak. Tidak semua wilayah di Indonesia mampu untuk menanam padi, sehingga disebagian wilayah di Indonesia tidak menjadikan beras sebagai panganan pokok, akan tetapi mereka ganti dengan sagu, singkong, jagung, kentang, dan sumber karbohidrat lainnya.

Kondisi tersebut diatas juga terjadi di bidang energy. Tidak semua wilayah di Indonesia mampu memproduksikan minyakbumi, tiap wilayah di Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang berbeda-beda, sehingga setiap wilayah tersebut seharusnya tidak perlu tergantung kepada satu sumber energy saja. Berikut adalah beberapa potensi sumber energy alternative yang bisa dikembangkan di Indonesia:

 a.    Sumber Daya Shale Gas dan CBM

Selain cadangan natural gas Indonesia yang diprediksikan masih mampu untuk diproduksikan hingga 50 tahun mendatang, unconventional energy berikut memiliki jumlah sumberdaya yang lebih besar dan mampu menopang produksi gas alam dimasa depan, yaitu shale gas (574 TCF) dan Coal Bed Methane (453 TCF)

b.    Sumber Daya Batu bara

Cadangan batu bara yang dimiliki Indonesia hingga Januari 1996 tercatat 5,31 milyar ton reserve dan 36,34 milyar ton resource, yang tersebar di pulau Sumatera (67,4%), Kalimantan (32,2%), Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya. Sebagian besar batu bara Indonesia berupa lignit (58,6%) yang memiliki nilai bakar yang rendah. Sisanya berupa batu bara subbituminous (26,6%), bituminous (14,8%), dan sedikit antrasit yang ditemukan di Sumatera. Jumlah cadangan baru bara Indonesia hanya 2-3% dari seluruh cadangan batu bara dunia.

c.    Sumber Daya Uranium

Kegiatan eksplorasi di Indonesia terbatas baru pada identifikasi cebakan secara hipotetik yang masih perlu dibuktikan antara lain melalui pemboran. Sumber daya Uranium yang telah ditemukan di daerah Kalan, Kalimantan Barat adalah sebanyak 12.409 ton. Upaya lebih lanjut di bidang eksplorasi perlu diintensifkan untuk menemukan cadangan uranium yang lebih besar baik di daerah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi maupun di Irian Jaya, mengingat secara geologi daerah-daerah tersebut berpotensi mengandung cebakan mineral radioaktif terutama uranium.

d.    Sumber Daya Air

Pada umumnya potensi tenaga air terdapat di wilayah yang jarang penduduknya, sehingga di wilayah ini permintaan energi listrik sangat kecil dibandingkan dengan kemampuan berskala besar tenaga air yang tersedia. Di pulau Jawa potensi tenaga air sebagian besar sudah dimanfaatkan untuk mendukung penyediaan energi listrik. Potensi tenaga air di Indonesia diperkirakan sebesar 75.624 MW dan yang sudah digunakan sekitar 3.200 MW.

e.    Sumber Daya Tenaga Panasbumi

Energi Panasbumi adalah suatu energi alami dari dalam bumi yang merupakan hasil interaksi antara panas dari batuan bumi dan air di sekitarnya. Indonesia memiliki potensi energy panasbumi terbesar di dunia,

Beberapa alasan mengapa energi panasbumi tersebut harus dikembangkan di Indonesia, yaitu :

  • Potensi geothermal di Indonesia sangat besar, yaitu 27.189 MW atau setara dengan 11 milyar barel. Dengan Konsumsi BBM untuk pembangkit listrik di tahun 2005 sebesar 9.223.576.000 liter atau setara 58.046.419 barel (Sumber: DESDM, 2005), maka geothermal cukup untuk memasok listrik di Indonesia selama 190 tahun.
  • Mengurangi ketergantungan terhadap minyakbumi, dan dapat menghemat BBM sebesar 58.046.419 barel per tahun
  • Merupakan energy yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan.
  • Tidak membutuhkan lahan produksi yang luas, yaitu sekitar 0,4 – 3,2 hektar per mega watt

Ketersediaan sumber energi yang beragam di negeri ini seharusnya menjadi alasan utama pemerintah untuk tidak “memaksakan” minyak bumi sebagai sumber energy utama. Semisal di Nusa Tenggara yang tidak menghasilkan minyak bumi dapat memanfaatkan energy Surya, gelombang laut, atau geothermal sebagai sumber energy utama, sehingga cita-cita swadaya energy dapat tercapai.

Proses transformasi energy fossil menjadi energy baru dan terbarukan tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Peningkatan produksi dengan teknologi EOR (enhance oil recovery), penerapan konsep-konsep eksplorasi baru di lapangan minyak tua, eksplorasi minyakbumi masif di cekungan-cekungan Indonesia timur, dan ekspansi pencarian minyakbumi ke luar negeri adalah beberapa hal yang wajib dilakukan agar proses transformasi menuju swadaya energy nasional dapat berjalan dengan lancar. Salis Aprilian dalam bukunya membangun(kan) perusahaan energy nasional menyebut konsep ini dengan istilah the right energy, in the right place, and in the right time.

IEC

Diagram proses transformasi energi (Aveliansyah, 2013)

 

salam,

yang sedang belajar Geologi

One Response to Indonesia Energy Challenges

  1. bener banget kang avel, tapi sekarang kok pemegang kekuasaan dan penimbang kekuasaan belum bisa bervisi untuk eksplorasi baru lagi ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: