Ketika Tukang Batu Menjadi Penari

Hampir 5 bulan sudah blog ini tidak tersentuh, terimakasih untuk sobat blogger yang sudah mengingatkan saya kembali untuk segera membuat postingan terbaru. 5 bulan bukanlah waktu yang sebentar, ada banyak cerita menarik yang sudah saya lewati, yaitu pergi ke kantor, makan dikantin, pulang ke kostan… lalu pergi ke kantor, makan di kantin, dan pulang ke kostan lagi…

aah itu cerita yang sangat membosankan. yaa,, memang begitulah realita para pekerja ibukota, bagi mereka yang tinggal jauh dari kantor, biasanya mereka menghabiskan waktu selama 2 sampai 4 jam di jalanan ibukota yang sangat padat ini, sedangkan bagi saya yang tinggal di belakang kantor alhamdulillah bisa memanfaatkan waktu 2-4 jam tersebut untuk hal bermanfaat lainnya (tidur hehehe). 

Para pekerja ini sangat merindukan weekend, karena mereka (termasuk saya) bisa melepaskan diri sejenak dari rutinitas yang sangat membosankan itu, biasanya kami akan melakukan tamasya keliling kota naik delman istimewa, nonton dan makan bersama sejawat lama, atau malah memanfaatkan waktu tersebut untuk tidur panjang diatas ranjang kesayangan.

Tapi jangan khawatir, saya punya tips buat sobat blogger semua agar menjadi pekerja yang tidak terjebak dengan rutinitas yang membosankan tersebut, lets cekidots!

1. Berorganisasi

Di ibu kota ini ada begitu banyak perkumpulan pemuda yang memiliki aktivitas positif, seperti forum pemuda, organisasi keprofesian, LSM, dan lain-lain. Dengan tetap aktif berorganisasi maka kita akan mendapatkan banyak teman, melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang banyak, dan otak kita juga dilatih untuk tidak terpaku kepada rutinitas pekerjaan saja. Bagi para geosaintis muda, mungkin FGMI (forum geosaintis muda indonesia : http://fgmi.iagi.or.id/) bisa menjadi pilihan yang tepat untuk beraktivitas diluar rutinitas🙂

2. Menjadi Penari

sekarang kita akan masuk ke dalam inti dari tulisan ini, pendahuluan diatas adalah sedikit promosi tentang forum yang sedang saya rintis bersama teman-teman seprofesi, hehehe…

Selama menghilang dari dunia perbloggeran, ada banyak cerita menarik yang belum sempat saya tuliskan, dari mulai pengalaman seru di lombok, pengalaman menarik di beberapa kegiatan FGMI, atau yang terakhir ini adalah pengalaman mengesankan selama di offshore. Tapi, yang akan saya ceritakan lebih dulu disini adalah, bagaimana ketika tukang batu menjadi penari.

Jadi begini ceritanya,

tolong jangan anda bayangkan saya menjadi penari striptis (karena itu sama sekali tidak lucu), penari yang saya maksud adalah penari tradisional indonesia. Untuk kedua kalinya saya disuruh menghapal gerakan tarian daerah (yang pertama adalah tarian poco-poco sewaktu SMA tentunya) dan dipentaskan diatas panggung yang disaksikan banyak orang.

Kantor tempat saya bekerja berencana untuk mengadakan acara halal bi halal (setelah idul fitri) yang beda dari biasanya, para panitia ingin mengekspose bakat-bakat yang dimiliki oleh para pegawai di kantor ini, jadi inti hiburan kali ini adalah “dari kita untuk kita”. Panitia tidak mengundang penyanyi dan penari profesional, sebagai gantinya para karyawan lah yang melakukan hal tersebut, akan tetapi agar  performance kita tidak terlalu memalukan, maka panitia mengundang tim dari Institut Kesenian Jakarta untuk melatih kami selama satu minggu.

Pertanyaannya kenapa harus saya? saya pikir tubuh saya tidak cukup sexy untuk menjadi penari… jawabannya, karena ada satu orang yang mengundurkan diri karena harus bertugas ke laut, dan dikorbankanlah saya untuk menggantikannya. Hebatnya lagi, saya baru bergabung kedalam tim 2 hari sebelum perform! 

setelah dilatih selama 2 jam tarian gantar (tarian asli kalimantan), akhirnya saya bisa menarikannya walaupun tidak terlalu lancar, tapi setidaknya masih ada waktu satu hari lagi untuk melancarkannya. Akan tetapi harapan saya tersebut sirna, karena keesokan harinya ada personel dari tarian papua yang kecelakaan motor, sehingga tidak bisa ikut perform. Entah apa yang ada di benak pikiran pelatih saya waktu itu, Ia menunjuk saya untuk menjadi pengganti dalam tarian papua tersebut. Yasudahlah saya terima saja penunjukannya, toh tarian gantar juga belum lancar, dan tarian papua sepertinya lebih sederhana.

Ya begitulah sedikit cerita dan foto-foto ketika tukang batu menjadi penari, walaupun tampang rocker tapi hati tetep dangdut, dan badan juga tetep bisa menari. Positifnya dari kegiatan ini adalah, kami tidak terjebak kedalam rutinitas pekerjaan kantor, kami juga bisa lebih mengenal teman-teman kerja dari berbagai departemen yang berbeda, dan kami bisa menari🙂

salam

yang sedang belajar menari (eh.. geologi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: