Manajemen Bencana Alam (intisari)

Berikut saya tuliskan ringkasan dari diskusi panjang saya selama mengikuti International Conference di Kyoto University tempo hari :

Pembahasan dimulai dengan pemaparan segala macam masalah (problem) yang pernah dialami oleh para peserta diskusi selama melakukan manajemen kebencanaan. Setelah masalah berhasil dipetakan, maka langkah selanjutnya adalah mendiskusikan solusi terbaik (best practice) terhadap masalah tersebut, dan diakhiri dengan penyusunan rencana (post strategies) pasca bencana.

Problem,

Dari sekian banyak masalah yang dilontarkan ke forum diskusi, ada satu masalah menarik yang (menurut saya) merupakan tantangan utama dalam manajemen bencana di Indonesia, yaitu kesadaran masyarakat (public awareness). Kita tentu masih ingat dengan Bencana Merapi pada tahun 2010 kemarin, pemerintah tidak kuasa memindahkan penduduk dari lereng Gunung Merapi tersebut, karena orang yang dijadikan panutan mereka, yaitu Mbah Maridjan belum mau turun gunung, sehingga pada waktu Gunung Merapi meletus, memakan banyak korban jiwa. “Ada lagi yang menganggap bencana alam adalah kehendak Tuhan, dan maut-pun juga ada di tangan Tuhan”, sehingga jika memang sudah ajalnya, maka kemanapun kita pergi pasti akan mati juga, jadi tidak perlu repot untuk mengungsi. Maka dari itu, public awareness menurut saya adalah masalah yang paling utama, dan harus diselesaikan terlebih dahulu, setelah itu kita baru bisa berbicara tentang teknis pengelolaan bencana alam. Perlu diingat bahwa secanggih apapun teknologi yang kita gunakan untuk mitigasi bencana alam, tanpa didukung oleh public awareness yang baik, maka semuanya akan percuma.

Best practice,

Solusi dari permasalahan ini cukup banyak, dari mulai bekerja sama dengan pemimpin lokal yang notabene suaranya lebih didengar oleh masyarakat dibandingkan dengan petugas pemerintahan, kemudian menjadikan kearifan lokal (local wisdom) sebagai sarana early warning system terhadap bencana, dan lain sebagainya. Akan tetapi, solusi yang paling menarik dari hasil diskusi tersebut adalah dengan menanamkan kesadaran itu sejak dini, yaitu pada anak-anak sekolah dasar, karena pada dasarnya kesadaran itu tidak bisa dibangun secara langsung, kesadaran tersebut harus dibangun melalui proses yang panjang. Pemetaan bencana (hazard mapping) adalah salah satu solusi terbaik, jika pemerintah ingin lebih serius terhadap permasalahan ini, maka kurikulum “pemetaan bencana” bisa dimasukkan sebagai muatan lokal pada sekolah-sekolah yang berada pada daerah rawan bencana alam. Pada kasus ini, siswa diberikan tugas untuk memetakan jalur rawan bencana di wilayah tempat tinggal mereka sendiri, termasuk di sekolah. Mereka harus bisa mengenali lokasi mana saja yang rawan longsor, banjir, gempa, dan lain-lain, kemudian mereka juga harus bisa membuat rencana tanggap darurat ketika bencana tersebut datang, yaitu dari mulai jalur evakuasi, cara bersikap, dan lain-lain. Dengan begitu, masyarakat kita akan memahami peta sejak dini, dan mereka bisa bertanggung jawab atas keselamatan diri mereka sendiri, sehingga diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana alam.

Perlu dicatat bahwa ketika terjadi bencana alam, maka ancaman utama yang akan terjadi adalah masalah kesehatan, air bersih, pemerintahan yang kacau, dan situasi yang penuh kepanikan, sehingga pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah harus memiliki tindakan tanggap darurat yang sudah direncanakan jauh sebelum bencana terjadi. Pengalaman bencana tsunami aceh mengajakan kita bahwa bantuan sukarela dari negara-negara tetangga sangat membantu di dalam proses rehabilitasi bencana, akan tetapi perlu diingat bahwa dalam kondisi pemerintahan yang masih belum stabil, hal ini bisa merugikan negara, karena tentara asing bisa dengan leluasa keluar masuk Indonesia, mereka membantu korban bencana sekaligus mengumpulkan data-data yang menjadi rahasia negara. Oleh karena itu, harus ada sikap yang tegas dari pemerintah dalam hal memanajemen bantuan dari pihak asing, seperti halnya jepang ketika terjadi bencana tsunami, mereka tetap selektif dan disiplin dalam mengatur arus keluar masuknya tentara asing.

Media televisi, koran, radio, dan internet memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hal menciptakan opini publik. Ketika terjadi tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta dan Padang, hampir seluruh media di Indonesia menjadikan berita tersebut sebagai top headline selama berminggu-minggu, dan mengemas pemberitaan tersebut dengan begitu tragisnya, sehingga mengundang rasa kasihan dan iba bagi orang yang menyaksikan. Akan menjadi sangat berbahaya ketika dalam kondisi mencekam seperti itu, media memberitakan kabar-kabar yang tidak bertanggung jawab, yang malah menambah kepanikan yang ada di masyarakat. Kerjasama dengan media harus dilakukan, pemerintah harus memiliki aturan yang jelas dan tegas terhadap pemberitaan media, khususnya aturan pemberitaan ketika terjadi bencana alam. Media harus bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam menciptakan suasana yang lebih kondusif di masyarakat.

Post strategies,

Rencana jangka panjang yang harus dilakukan pasca bencana adalah proses rehabilitasi pusat pemerintahan dan fasillitas-fasilitas umum, sehingga masyarakat bisa melakukan aktivitas mereka sehari-hari. People empowering, menguatkan kembali mental masyarakat yang mengalami trauma pasca bencana, dari mulai golongan tua sampai anak-anak, semuanya harus mendapatkan perlakuan yang khusus. Pendampingan terhadap masyarakat pasca bencana mutlak harus dilakukan dan direncanakan dengan baik. Bangunan-bangunan yang hancur pastinya akan dibangun kembali, dan pemerintah harus terlibat didalam penyusunan rencana tata ruang wilayah yang baru. Bangunan-bangunan harus dibuat dengan memperhatikan aspek kebencanaan, dari mulai bentuk bangunan, bahan bangunan, sampai lokasi pembangunan harus direncanakan dengan serius. Di awal tadi saya menuliskan bahwa public awareness adalah masalah utama yang harus diselesaikan sebelum masuk ke tahap manajemen bencana yang berikutnya.

Jika masalah tersebut selesai, maka mitigasi adalah hal yang harus menjadi prioritas, karena mitigasi merupakan tahapan awal dalam manajemen bencana, jika mitigasi berhasil dilakukan dengan baik, maka proses-proses yang berikutnya (saat dan setelah terjadi bencana) akan menjadi lebih mudah. Organisasi-organisasi keahlian profesi yang berhubungan dengan kebencanaan seperti IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia), dan organisasi lainnya harus diajak bekerjasama dengan pemerintah, karena organisasi tersebut pasti memiliki tanggung jawab moral dan program kerja yang terkait dengan pengamalan disiplin ilmu mereka terhadap penyelamatan nyawa banyak manusia dalam menghadapi ancaman datangnya bencana alam.

2 Responses to Manajemen Bencana Alam (intisari)

  1. kereeennn… gak terlalu bertele-tele dan tepat pada tujuan penulisan ^^*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: