International Conference in Kyoto-Japan (episode terakhir)

Janji adalah hutang, sebisa mungkin melunasi hutang kita secepatnya supaya tidak membebani kita ataupun pihak yang telah dijanjikan. Sebelum berangkat ke Jepang saya sempat berkomunikasi dengan teman lama, ketika tahu saya akan ke Jepang, maka dia pun tidak melewatkan kesempatan untuk nitip oleh-oleh (seperti teman-teman saya yang lain), uniknya disini, dia tidak meminta barang apapun, dia hanya meminta dihadiahi cerita yang menarik dari Jepang😀. Oke, ini adalah episode terakhir dari cerita perjalanan saya di Jepang, selamat menikmati🙂

—————————————————————————————————————————————

Berbekal latihan presentasi 3 jam di hotel transit Bandara Shuvarnabhumi Bangkok, saya melangkah dengan optimisme tinggi untuk memasuki Kihada Hall. Waktu saat itu menunjukkan pukul 10.am, dan workshop pertama di hari itu baru saja selesai, saya langsung menuju meja registrasi untuk mendaftar dan menjelaskan ke panitia perihal keterlambatan saya di acara ini. Setelah proses registrasi selesai, saya dipersilahkan untuk segera mempersiapkan poster saya di lantai dua, saya pun bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Disamping booth yang sudah disediakan untuk saya, tampak 2 orang gadis melayu yang juga sedang menempel poster mereka, setelah berkenalan, barulah saya mengetahui bahwa mereka berasal dari Malaysia.

Sampai pukul 2.pm saya standby di depan booth poster saya, dan sempat berdiskusi dengan beberapa pengunjung yang tertarik dengan poster saya. Tidak banyak memang yang berkunjung di booth poster-poster ruangan itu, karena hampir semua peserta mengunjungi booth poster pada hari pertama (dan saya melewatkan itu). Akan tetapi, kekecewaan saya terobati setelah saya mendapat kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam focus group discussion yang membahas tentang manajemen bencana alam bersama dengan 20-an pakar kebencanaan dari berbagai negara. Hasil diskusi ini nantinya akan saya tulis secara khusus pada tulisan saya berikutnya.

Setelah focus group discussion berakhir, acara berikutnya adalah penutupan dan pembacaan best presenter, dimana untuk kategori natural hazard dimenangkan oleh Dr. Md. Nazrul Islam, dari University of Tokyo, dengan judul penelitian “Cyanobacteria bloom and toxicity of Lake Kasumigaura in Japan”

313131_2097335356931_1633585825_n

Ruang utama konferensi, Kihada Hall

313105_2097379798042_584722579_n

Peserta focus group discussion tentang manajemen kebencanaan

Di depan booth poster presentation

320010_2097358837518_873678751_n

Peserta International Conference SUSTAIN 2011, Kyoto, Japan

——————————————————————————————————————————–

Wisata di Kyoto

Setelah acara konferensi selesai, saya memanfaatkan sisa waktu perjalanan ini dengan berwisata di Kyoto. Jika diibaratkan dengan Indonesia, maka Kyoto ini layaknya Yogyakarta di Indonesia, dan Tokyo adalah Jakartanya Indonesia. Kyoto terkenal dengan kuil-kuilnya yang cantik, budaya jepang masih sangat kental disini, dapat dilihat dari bangunan rumahnya, dan tidak sedikit ibu-ibu yang masih menggunakan kimono (?) di dalam aktivitas sehari-hari mereka. Untuk biaya hidup sendiri relatif lebih murah dibandingkan dengan Tokyo, jadi saya sangat beruntung bisa mengunjungi kota Kyoto ini🙂

Berwisata di Kyoto sendiri sangat nyaman, saya hanya membutuhkan peta jalur bus (yang terdapat informasi tempat wisata di dalamnya), kemudian membeli one day ticket, dengan tiket tersebut saya bisa berkeliling kyoto seharian dengan menggunakan bus sepuasnya, hanya dengan menunjukkan tiket ini ke supir bus tersebut. Harga one day ticket adalah 500 yen atau sekitar 50.ooo rupiah.

313131_2097335476934_1992570451_n
Kyoto Tower di pusat kota Kyoto

293408_2097361597587_1574451524_n
Kuil Kyomizu (?), Kuil di belakang saya tersebut terlihat sangat ramai dipenuhi oleh para pengunjung. Biaya untuk memasuki kawasan ini adalah 300 yen, atau sekitar 30.000 rupiah

292000_2097362837618_1907307833_n
Rokuon-ji temple, terletak di kinkakuji-cho, Kita-ku, Kyoto. Kuil ini berwarna emas karena memang dilapisi oleh emas murni. Untuk masuk ke kawasan kuil ini, anda harus membayar 500 yen, atau sekitar 50.000 rupiah. Wisata saya kali ini ditemani oleh guide yang sangat baik handal yaitu Kana (wanita jepang yang sempat tinggal 1 tahun di Indonesia sewaktu ia menjadi relawan tsunami Aceh), Kana ini adalah temannya Edi (paling kanan, dia adalah dosen di IPB). Berkat mereka berdua, liburan saya menjadi sangat menyenangkan🙂

316562_2097364077649_6186283_nKyoto di waktu malam

302643_2097367157726_343699870_n
Gadis Jepang yang mengenakan Kimono

307776_2097364517660_1203969901_n
Pemandangan ciamik  di pegunungan arashiyama

298564_2097365557686_1486022691_n
saya menjumpai batuan metamorf gneiss di Pegunungan Arashiyama

306384_2097366277704_168794949_n
Batuan metamorf gneiss yang berada di pinggir jembatan, Arashiyama

306372_2097366797717_953112646_n

Penarik becak yang berlari diantara lalu-lalang mobil mewah

304069_2097368637763_1250791519_n
Taman di Arashiyama

Inilah akhir dari cerita saya tentang Jepang, sebuah negara impian yang memberikan berjuta kenangan indah yang tak terlupa. Dulu kita sering mendengar bahwa orang Indonesia terkenal akan keramah-tamahannya, padahal saya sendiri tidak merasakan hal itu di kota Jakarta ini. Jepang, khususnya di kota Kyoto, memiliki kualitas masyarakat yang luar biasa disiplin, dan sangat ramah terhadap orang asing. Berjalan sendirian di kota Kyoto tidak membuat saya khawatir, karena saya merasa sangat aman, walaupun mayoritas masyarakatnya tidak bisa berbahasa inggris, akan tetapi mereka akan berusaha dengan keras untuk bisa melayani kita (walaupun harus membuka kamus).

Banyak sekali inspirasi yang saya dapatkan disini, terutama soal kedisiplinan. Saya berjanji pada diri saya sendiri, sepulang dari Jepang, saya harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi, terutama dalam hal kedisiplinan! Semoga saya dan anda semua yang kebetulan membaca tulisan ini, suatu saat akan merasakan keindahan Jepang. Amin

Salam,

yang sedang belajar GEOLOGI



 

7 Responses to International Conference in Kyoto-Japan (episode terakhir)

  1. kurnia akbar says:

    sukses terus kak jadi kepengen kejepang juga nie kak dengar cerita dari kak ko doain yo kak…heheh

    • aveliansyah says:

      Amiin.. Mokasih ar..
      sekedar ke jepang doank, ketua IKMBS macam Aar pasti bisa lah🙂
      semangat terus memimpin IKMBS yo, itu bisa jadi wadah pembelajaran dalam berorganisasi

  2. grrrrrrrrrrrrrrr merinding vel. sama kata-kata terakhir deh.. >_<

  3. amin Ya Rabb #paketoamasjid

  4. nambahin dikit,, itu kalo diliat2 yang nyangkut dileher bukan lagi pake syal.. tapi sarung prepare mau jum’a tan #kabuuuuurrrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: