Tanyakan Pada Ahlinya (episode Pasport)

Ada pelajaran menarik yang saya dapatkan beberapa minggu belakangan ini, yaitu untuk mendapatkan jawaban pasti perihal sesuatu yang ingin kita ketahui, maka “Tanyakan Pada Ahlinya”

Pernah bermain games “komunikata”?

games tersebut biasa dimainkan oleh 5 – 10 orang yang berbaris memanjang. Orang yang berada di barisan paling depan akan dibisikkan sebuah kalimat, contohnya : “ayam tetangga mati tertindih mobil Pak Bono”. Kemudian kalimat tersebut akan dibisikkan dari mulut ke mulut  telinga, sampai orang yang berada di barisan paling belakang. Kemudian orang yang paling belakang akan ditanyakan kalimat apa yang ia dengar. Dan ternyata, setelah melewati 9 orang, maka kalimat tadi telah berubah menjadi Ayam kampus tetangga Pak Bono yang sering diantar-jemput naik mobil beliau, mati setelah ditindihin sama Pak Bono di kamar tetangganya“.  (pasti orang yang paling belakang tadi adalah ibu-ibu yang sukanya bikin gosip)

Sebenarnya, saya ingin menyatakan bahwa “kita tidak boleh percaya begitu saja atas apa yang kita dengar dari sumber yang sotoy  tidak dapat dipercaya, apalagi sampai terprovokasi”. Saya mengalami itu ketika sedang dalam proses pengurusan pasport.

Tidak kurang dari 6 orang yang saya tanyakan tentang cara dan biaya pengurusan pasport, dan saya mendapat lebih dari 6 jawaban. Ada yang bilang harganya Rp.400.000,- ada yang bilang Rp.1.000.000,- dan lain-lain. Cara mengurusnya juga banyak yang menyarankan menggunakan calo, karena kita tidak perlu antri lama dan prosesnya lebih cepat. Prosesnya pun sesuai dengan harga, yaitu : Rp. 400.000,- = 1 minggu,sedangkan Rp.1.000.000,- = 1 hari. Saya bingung, saya ingin tarif murah dan cepat, Jalan manakah yang harus saya tempuh? *rada lebay

Akhirnya saya putuskan untuk mengurus pasport di Kantor Imigrasi Jakarta Timur saja, cukup dekat kantor saya (dengan resiko antrian yang membludak, karena warga jakarta “katanya” lebih banyak yang mengurus pasport dibandingkan dengan daerah lain, seperti Kantor Imigrasi Karawang misalnya).

Saya kagum dengan pelayanan di sana, bagitu sampai di pintu masuk sudah banyak spanduk yang bertuliskan “JANGAN MENGGUNAKAN JASA CALO, KAMI MAMPU MELAYANI ANDA“, *wooow, slogan yang cukup PeDe😀 . Disana juga dipasang poster-poster yang menjelaskan proses aplikasi pasport, cara mengisi formulir pendaftaran, waktu yang dibutuhkan, sampai biaya pun ditulis dengan jelas disana. *dalam hati saya berdoa, semoga mereka konsisten dengan apa yang mereka tulis.

Dan ternyata memang benar, saya hanya membutuhkan waktu 7 hari kerja dengan biaya hanya Rp.255.000,- saja untuk mendapatkan pasport! Jadi, pesan moralnya adalah “jangan mudah percaya, apalagi terprovokasi terhadap cerita dari orang-orang yang bercerita dengan menggunakan kalimat “katanya ini, katanya itu“, yang perlu anda lakukan adalah berdiri dan berjalan langsung ke lokasi untuk bertanya dengan jelas apapun keraguan dan ketidaktahuan anda, tanyakan pada ahlinya”

Oke, sedikit saya jelaskan proses pembuatan pasport, semoga bermanfaat :

  1. Siapkan persyaratannya : Kartu Keluarga, fotokopi KTP (tidak boleh bolak-balik), Akta kelahiran atau Ijazah SMA, Surat Keterangan Kerja (jika anda mengurus pasport diluar domisili KTP anda). NB : jangan lupa, membawa dokumen aslinya ya
  2. Datang ke kantor Imigrasi, beli map kuning, form aplikasi, dan materai dengan biaya Rp.12.000,-
  3. Mengisi form aplikasi sesuai petunjuk yang diberikan. Setelah pengisian selesai, anda baru bisa mengambil nomor antrian.
  4. Antriannya memang panjang, tapi berhubung loket pelayanannya banyak, jadi kita hanya perlu menunggu selama 1 jam saja untuk menyerahkan form aplikasi, kemudian kita diberikan surat wawancara (3 hari setelah penyerahan form aplikasi)
  5. Tiga hari kemudian kita datang dengan tetap membawa dokumen asli untuk wawancara dan foto, jangan lupa membawa uang Rp.255.000,-. Setelah wawancara selesai, maka pasport kita bisa diambil 4 hari kemudian.

Prosesnya ternyata sangat rapih dan transparan, semua sesuai dengan apa yang mereka tuliskan di spanduk dan poster. Salut untuk kantor imigrasi jakarta timur yang sudah melayani warganya dengan baik, (walaupun kasus suap masih terjadi di depan mata saya, tapi yasudahlah, mental itu memang susah diubah).

Untuk yang ingin mengurusi pasport atau apapun itu, saya sarankan untuk tidak “menyuap/menyogok” karena ketika kita melakukan itu, maka petugas kemungkinan besar akan sulit menolaknya. Jika kita mau lebih disiplin dan teratur dalam berkehidupan, maka mental disiplin tersebut perlahan akan menghilangkan praktik KKN  di negeri ini. Hal ini bisa kita pelajari dari cara kita mengantri, hampir semua dari kita tidak suka antri, padahal sudah seharusnyalah yang datang belakangan menunggu sampai yang datang lebih dulu selesai. Memang bisa saja kita memotong antrian dengan membayar satu per satu orang yang ada di depan kita, tapi mental seperti itulah yang akan semakin menyuburkan praktik KKN di negeri kita.

Salam,

Aveliansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: