Tarian Pasir Purba

Di tanah sunda ia tercipa, tarikan alam telah membuka dunianya, melepaskannya dari sang induk yang telah lama mengikat dirinya. Sebutir pasir purba memulai perjalanannya,  menari ia diatas gunung, melompat ia dihamparan permadani aluvial, berlari diantara anyaman sungai. Ketika lelah, ia akan memperlambat irama tariannya, beristirahat di danau yang kaya alga, membersihkan diri sejenak.

Di ujung benua sana, lautan dunia datang menyapa, memperpendek perjalanan yang ingin ia tempuh. Pasir purba kembali menari, ingin menyambut lautan dunia yang ingin berdansa dengannya. Tariannya indah ketika menyusuri kelokan sungai, menyapa pepohonan, dan akhirnya beristirahat kembali di pesisir.

Di pesisir ia menemukan banyak keanekaragaman, dan ia sekarang sudah bertatapan muka dengan lautan dunia. Mereka berdansa, maju-mundur seirama, menghasilkan tarian yang begitu indah.

Tidak terasa, pasir purba telah menghabiskan waktu berjuta tahun untuk mengembara, menarikan tarian indahnya. Ia sekarang sudah dewasa, perjalanan telah mengikis kesombongannya, mengasah kepandaiannya, menghaluskan tata bicaranya. Ia bukan lagi sebongkah batu yang dengan congaknya berdiri di puncak tertinggi, ia sekarang hanyalah sebutir pasir yang telah merasakan sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan penaklukan. Ia telah terkubur tenang di dalam lautan, diselimuti pasir-pasir lain yang lebih muda.

Tanpa ia sadari, ia telah meninggalkan jejak-jejak tarian yang sangat indah, jejak tarian yang mampu membantu manusia dalam memahami semesta.

Jakarta, 14 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: