Profil : Awang Harun Satyana

Di Indonesia ini ada 3 geologist yang benar2 menginspirasi saya, tidak hanya menjadi engineer yang tangguh akan tetapi juga scientist yang mengagumkan, karya2 mereka telah diakui baik secara nasional bahkan internasional, mereka adalah Prof.Koesoemadinata, Dr.Ir.Andang Bachtiar, Msc, dan Awang Harun Satyana.. saya yakin masih banyak lagi ahli geologi indonesia yang tidak kalah hebat dan dapat dijadikan inspirator yang dahsyat, akan tetapi, yang saya kenal secara langsung memang baru 3 orang hebat ini, untuk itulah saya ingin berbagi inspirasi yang saya dapatkan dari mereka,, sebuah cerita perjalanan hebat sang sarjana S1 yang kemampuannya tidak kalah dengan Doktor :


Saya ingin berbagi cerita sedikit. Semoga tak terlalu menyita waktu rekan-rekan Geo-Unpad yang mau membacanya. Saya menyukai kedokteran dan geologi sejak saya duduk di SMP. Buku-buku kedokteran dan geologi sudah saya kumpulkan sejak kelas 3 SMP, tahun 1979, tahun saat saya memulai membangun perpustakaan pribadi. Setiap minggu dengan uang saku sisa seadanya saya biasa membeli buku-buku bekas di pedagang loak Pasar Cihapit. Di kiosk-kiosk buku loak itu saya suka bertemu dengan Prof. G.A. de Neve, geologist Belanda berbadan besar. Di situ pula saya temukan buku-buku geologi van Bemmelen, Henry Brouwer, Umbgrove, Katili, dll. Buku2 kedokteran setebal 10 cm pun saya membelinya sebagai persiapan kalau-kalau saya jadi mahasiswa kedokteran. Tentu untuk membeli semua buku itu saya harus menabung dulu beberapa minggu.

Akhirnya, saat saya duduk SMA terkumpulah 2000 buku macam-macam. Buku-buku geologi loakan itu saya sering lihat-lihat. Dari SMP pun saya suka bermain ke museum geologi yang tak jauh dari rumah. Betapa menariknya geologi ! Saat tes masuk perguruan tinggi, saya tentu memilih Kedokteran dan Geologi, dua-duanya di Unpad. Mengapa saya tak memilih geologi di ITB ? Sebab dalam pandangan saya saat itu, lulusan geologi ITB akan jadi insinyur teknik geologi, sesuatu yang saya tak inginkan sebab saya ingin menjadi seorang ilmuwan geologi. Maka saya memilih geologi Unpad yang bernaung di bawah Fakultas MIPA, tentu bernuansa lebih ilmiah dan bukan teknik. Ternyata, baik geologi ITB maupun geologi Unpad sama saja, lulusan geologi Unpad pun saat saya lulus gelarnya insinyur pula. Lalu, saya gagal masuk kedokteran Unpad dan diterima di geologi Unpad.

Tahun 1983 saat itu. Karena menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak kecil, saya mencoba masuk kedokteran Maranatha, diterima dan sempat kuliah satu tahun, kemudian diputuskan keluar karena biaya. Tahun 1984 saya mencoba lagi masuk kedokteran Unpad, gagal lagi, ya sudah, cita-cita menjadi dokter saya kubur. Saya ingin bertekun di geologi saja. Selama tahun1983-1988 saya kuliah geologi di dua tempat : satu di kampus (formal), satu di perpustakaan P3G (informal). Di kampus saya mendapatkan pendidikan dari bapak-bapak dosen, di perpustakaan geologi saya belajar geologi dari laporan-laporan, jurnal-jurnal, dan banyak lainnya. Pulang dari perpustakaan saya selalu mampir ke museum agar hafal ini batu ini, itu batu itu. Para petugas perpusatakaan P3G tahun 1983-1988 adalah orang-orang yang sangat berjasa buat saya (Bu Polhaupessy, Pak Ade, Pak Anton, Eutik, Teh Ani, dll…) yang tak bosan melihat saya hampir setiap hari berjam-jam di situ selama bertahun-tahun. Kalau bekerja di perpustakaan, saya pasti mencatat banyak hal penting dari bahan yang saya pelajari. Catatan-catatan di kertas bekas itu kalau ditumpuk ada satu meter tingginya. Lulus sekolah Februari 1989, saya mengirimkan surat lamaran ke 40 perusahaan dan instansi. Yang menjawab hanya empat : tak ada lowongan ! Selama setahun saya mencari pekerjaan ke sana-sini sambil bekerja paruh waktu di sebuah konsutan pertambangan di Bandung. Saya membentuk kelompok bahasa Inggris dengan teman-teman yang bertemu seminggu sekali sambil bertukar info soal bursa pekerjaan. Kelompok kecil ini kemudian ternyata sangat membantu saya saat tes wawancara dengan perusahaan yang memanggil saya.

Di ujung 1989, kesempatan datang dan saya dapat memanfaatkannya dengan baik. Saya lulus tes masuk P3G, juga lulus tes masuk Pertamina. Saya melamar ke P3G karena ingin melanjutkan sekolah sebab saat itu di P3G banyak sekali doktornya. Melamar ke Pertamina karena saya ingin dapat gaji yang lumayan. Bingung saya memutuskan, masuk ke P3G atau Pertamina ? Di P3G, saya punya banyak teman senior baik yang master maupun doktor, itu karena saya rajin ke P3G dan memberanikan diri mengobrol dengan mereka. Satu per satu saya tanya, saya mesti masuk ke mana, P3G atau Pertamina ? Jawaban sekian banyak ahli itu : jangan masuk P3G, duitnya sedikit, kesempatan sekolah pun sedang jarang (begitu kira-kira jawabannya). Maka, saya bulatkan masuk Pertamina saja. Di Pertamina tahun 1990-1997 saya sibuk sebagai seorang exploration geologist. Tahun 1991 dibuka kesempatan sekolah S2 (lalu S3), saya terpilih untuk ikut tes, datang dari Balikpapan ke Jakarta, bersaing dengan sekian belas teman2 Pertamina lain. Pulang ke Balikpapan saya diberitahukan bahwa saya tidak lulus, katanya gagal di wawancara sebab yang diperlukan adalah orang yang senang riset 100 % (saya menjawab saat wawancara saya suka riset 50 % dan operasi lapangan 50 %). Apakah hanya itu kriteria kelulusan ? Saya tidak yakin…, tetapi sudahlah, saya akan tetap mencintai geologi meskipun tidak sebagai S2 apalagi S3.

Lima tahun karier awal saya ternyata pekerjaannya serabutan dan kebanyakan pergi ke lapangan. Studi-studi geologi semakin jauh dari saya. Terus terang, saat itu saya mengiri kepada teman-teman yang ditempatkan di bagian studi geologi yang sering berdiskusi dengan ahli2 geologi S3 dari ITB atau LIPI atau tempat lain sebagai konsultan studi2 Pertamina. sementara saya, jauh di lapangan, di tengah hutan menjaga sumur2 sebagai wellsite geologist. Tetapi, saya selalu ingat kata-kata ini, kata2 yang saya temukan di lembar pertama skripsi Pak Ildrem Syafri yang saya panggil Uda Ildrem : “Lebih baik menyusul dengan diam-diam daripada membuang waktu dengan iri hati kepada orang yang berjalan di depan.”.Maka, hari-hari saya penuhi dengan belajar dan belajar, hari-hari saya penuhi dengan menulis dan menulis. Tahun 1993 saya mulai menulis paper yang saya kirimkan ke PIT IAGI atau IPA; dan sejak itu saya tak bisa lagi berhenti belajar dan menulis. Saya menulis banyak hal dalam geologi sebab saya belajar banyak hal dalam geologi. Saya tetap menulis meskipun saya bukan seorang S2 atau S3, bukan seorang yang bekerja di lembaga riset, bukan seorang yang bekerja di perguruan tinggi.

Saya menulis bukan untuk mengejar nilai kum, tetapi saya menulis karena mencintai geologi dan ingin menyampaikan pikiran saya kepada khalayak ramai. Teman-teman saya yang master dan doktor di Pertamina, yang dulu sama-sama waktu tes untuk S2 dan S3 (mereka berhasil sementara saya gagal) saya amati terus publikasinya, ternyata publikasi saya jauh lebih banyak…Saya beranikan meneliti dan menulis meskipun isinya bisa bersinggungan atau mungkin ditertawakan doktor-doktor ahlinya. Lalu, tahun 1997-2000 saya dipindahkan ke JOB Santa Fe-Salawati joint antara Pertamina dan Santa Fe untuk mengerjakan Cekungan Salawati. Inilah periode yang berharga untuk saya melakukan banyak studi secara mandiri. Saya belajar dan berbuat (learning by doing). Berbagai macam studi saya lakukan di sini, mulai dari geokimia sampai struktur. Semua studi bukan diinstruksikan dari atasan, tetapi atas keinginan sendiri. Ada sekitar tujuh volume laporan studi selama empat tahun yang produktif itu. Studi-studi itu telah sangat membantu saya memahami petroleum geology secara terintegrasi. Saya makin percaya : no pain no gain. Saya juga percaya bahwa tak ada yang sulit dalam hidup ini asal mau berikhtiar, berusaha, dan ulet. Menjelang tahun 2000 dan sesudahnya mulai banyak teman yang mengambil sekolah S2, baik dibiayai perusahaan maupun biaya sendiri. Dosen2 dari ITB datang ke kantor seminggu sekali mengajari mereka. Saya tak berminat mengambilnya, saya sudah lama belajar sendiri di perpustakaan saya yang saat itu sudah hampir 5000 koleksi buku-bukunya tak termasuk ribuan paper geologi. Mengambil sekolah lagi ibarat merasa mengkhianati diri sendiri yang sudah bersumpah otodidak. Tahun 2000 saya dipindahkan ke Pertamina MPS (manajelem production sharing – asal muasal BPMIGAS sekarang). Di sini sama sekali bukan tempat riset, bukan tempat melakukan studi-studi geologi, dan sejenisnya, tetapi tempat mengawasi dan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan kontraktor2 perminyakan Indonesia. Banyak orang bilang bahwa di Pertamina MPS kemampuan teknis kita akan berkurang dan hilang sebab kemampuan kita tak dipakai lagi, tak mengerjakan studi lagi, hanya menilai. Benarkah begitu ? Mungkin ya mungkin tidak. Tetapi yang jelas justru di Pertamina MPS-BPMIGAS lah kecintaan saya kepada geologi makin menjadi sebab saya dikelilingi sedemikian banyak data dari seluruh Indonesia. Saya juga menerima laporan studi ini studi itu. Maka lebih dari setengah jumlah total publikasi saya, saya tulis di Pertamina MPS-BPMIGAS.

Saat ini jumlah total publikasi saya sudah 139 (56 paper untuk berbagai pertemuan nasional dan internasonal, 23 artikel untuk jurnal dalam dan luar negeri, 6 bab di dalam enam buku, 24 presentasi undangan dan pidato kunci, 21 kuliah umum/tamu di berbagai perguruan tinggi, dan 9 buku manual kursus untuk profesional) . Semua saya tulis atas nama cinta saya kepada geologi dan pengabdian saya kepada masyarakat geologi dan masyarakat awam. Tidak ada satu pun daripadanya yang saya tulis untuk mengejar kum sebab saya bukan dosen dan bukan peneliti di lembaga riset; dan tidak ada satu pun yang saya tulis untuk mengejar salary geology. Kini, di perpustakaan saya di rumah, saya dikepung oleh hampir 6500 buku. Buku-buku yang telah saya kumpulkan dari tahun 1979, hampir 30 tahun yang lalu. Itulah sekolah saya, sekolah tanpa teman, tanpa gelar, tanpa kelulusan, tetapi dengan ribuan dosen-dosen hebat yang bisa saya tanya kapan saja baik tengah malam maupun dini hari. Ujiannya adalah membuat paper-paper dan mempresentasikannya . Akan ada pertentangan yang hebat dalam diri saya kalau saya mengambil sekolah lagi, itu ibarat mengkhinati diri sendiri yang sudah bersumpah “otodidak”. Hampir 20 tahun otodidak, tak gampang “mengkhianatinya” . Suatu hari saya duduk bersebelahan dengan Prof. Robert Hall, ahli tektonik SE Asia yang terkenal itu, di dalam sebuah pertemuan internasional. Saya dan Prof. Hall sama-sama presentasi tektonik Jawa Tengah. Kami berbagi kartu nama dan Prof. Hall langsung berkomentar demi melihat institusi saya (BPMIGAS), “you did your research as a hobby, didn’t you ?” Ya, semuanya karena hobi, seperti juga yang Pak Herman lakukan.

Saya sudah menemukan kecintaan saya dalam geologi. Apakah keahlian geologi bisa dijadikan uang ? Tentu saja ! Tetapi bukan itu perhatian saya yang utama, uang akan mengikuti kita apabila kita punya magnet untuk menariknya. Magnet itu bernama keahlian. Saya ingin mengatakan kepada para junior saya : besarkan dulu keahlian geologimu, uang akan mengikutinya apabila keahlian itu sudah menjadi magnet Jangan membuatnya terbalik. salam,awang

sumber : http://jurnal-geologi.blogspot.com/

41 Responses to Profil : Awang Harun Satyana

  1. Smga geologist2 junior undip bsa mengkuti langkah Mr. Awang…
    luar biasa, trnyata blm sbrapa usaha yg kita lakukan dibandingkan dengan apa yg Mr. Awang lakukan.

  2. aveliansyah says:

    sayangnya disini tidak dicantumkan cerita tentang IPK beliau, karena yg saya dengar, katanya IPK beliau itu kecil (tp sy tdk tahu kepastian berita itu)…

    pasti bisa kok..
    ditunggu gebrakan Geology Reaserch Club nya yan!

  3. nona naru says:

    🙂
    inspiratif..
    “keahlian”
    “menjadi magnet”

    10 tahun lagi pasti qt yang menulis cerita qt yang akan menginspirasi diri qt dan orang lain.

  4. aveliansyah says:

    saya harus jadi pembaca pertama cerita perjalanan anda bu sekjen🙂

  5. kidan says:

    what a 3 great man geologist that ever lived in indonesia

  6. menjadi ahli yang mengagumkan…

  7. iwan zahar says:

    tidak mudah menjadi otodidak di indo,butuh kerja sangat keras dan lama. Pendidikan S2 dan S3 lebih dituntut mandiri dan otodidak…tapi ada pembimbing…salut sama adik kelas saya sendiri…memang sistim di Indonesia belum bisa jadi misal kita sebagai S1 kerja di LIPI 5 th…belum tentu kualifikasi kita naik menjadi level S2 atau 10 th menjadi level S3….bahkan jadi dosen sekalipun….jangan heran kayak di aussie ada pembimbing doktor yang bergelar S 1…

  8. blogofgeo says:

    Almkm,
    Subhanallah, ternyata seperti itu ya perjalanan pak awang? Gw juga sering denger nama beliau (foto diatas kl gak salah pas PIT IAGI 39th, di Semarang kemarin yah?). itu lg naya poster kalian (anakUNDIP) atau jelasin papernya beliau. wkt itu gw jg kenalan ma anak UNDIP tp lupa namanya siapa. tp yg gw inget ada satu poster anak undip. trimakasih ud memberi pelajaran dari ceritanya ini… Salam Kenal Wildan, T. Geologi ITB.

  9. Awang Satyana says:

    Salam untuk semua. IPK saya kecil dibandingkan IPK rata-rata lulusan geologi sekarang, IPK saya 2,95. Jelas kalau nilai IPK minimum 3,0 dijadikan batas minimum melamar kerja seperti banyak iklan lowongan kerja, hm saya sudah otomatis selalu tersisih. Tetapi, saya selalu mengatakan kepada banyak orang : saya tak perlu anak yang pintar, tetapi yang rajin. Lagipula, nilai bukan sesuatu yang menunjukkan prestasi nyata seseorang; hanyalah konsistensi seseorang yang menunjukkan apakah ia benar2 mencintai profesinya atau tidak. Tiga kata kunci yang selalu saya pegang sebagai geologist adalah : cinta, konsistensi, dan keberanian. Ketiganya tak butuh kepintaran, tetapi sangat butuh kesungguhan. Cintai geologi, konsisten mengusahakannya, berani mendiskusikannya. Cinta hanya butuh kesungguhan bukan gelar. Konsistensi hanya butuh ketekunan dan keuletan yang terus-menerus bukan kepintaran atau kecemerlangan. Keberanian hanya butuh keyakinan diri, siapa pun kita. Publikasi saya meningkat dengan cepat karena saya menerima tantangan2 yang datang dari mana-mana. Saat ini jumlah publikasi saya adalah : 182 publikasi; koleksi buku pun meningkat cepat sebab dalam setahun saya bisa membeli buku lebih dari 500 buah; saat ini ada 7200 buku. Buku buat saya ibarat teman dan guru.

    • aveliansyah says:

      wow.. suatu kehormatan blog saya dikunjungi sang idola, selamat datang Pak Awang..
      terimakasih telah berbagi inspirasi dengan kami, para calon geologist muda,,
      CINTA-KONSISTENSI-KEBERANIAN… akan saya jadikan jalan hidup geologi saya pak!

  10. mulya says:

    saya merinding pas baca blog ini.. kebetulan saya sedang cari tau banyak tentang geologi karena saya anak geologi baru di UGM ..
    saya mau tanya pak,,sesulit apa sih belajar geologi itu? menurut senior yang sudah2, selalu ingatin ke saya “dik, harus dipikir2 lagi kalau mau masuk teknik geologi, apalagi kamu seorang perempuan. harus kuat mental dan fisik”
    jujur saya masuk geologi bukan karena kemauan saya sendiri, tapi atas dorongan orang tua dan juga banyak ilmu2 yang saya ingin tau lebih banyak di geologi.

    trus menurut bapak, cara belajar yang paling efektif biar saya cepat tanggap karena pelajaran2 yang ada dalam sks benar2 banyak yang baru untuk saya.

    makasih sebelumnya

    • aveliansyah says:

      @ mulya : weiiitzz.. mau tanya ke bapak yang mana nih? pak awang??? saya hanya mengutip cerita beliau saja, dan secara “kebetulan” beliau juga ikutan comment diatas, dan saya ndak tau apakah pak awang bakal bermain lagi di lapak ane gan.. hehe..
      berhubung ane yang punya lapak ini, jd biar ane aja yg reply nih pertanyaan.
      mulya, saya mungkin gak bisa memberi jawaban tentang cara belajar yg efektif di geologi, karena saya pun masih “sedang belajar geologi”, sama seperti mulya🙂
      apapun alasan km masuk geologi, entah itu terpaksa krn orang tua atau bukan, yang jelas jalani dengan ikhlas, jgn pernah mau jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja, jadilah mahasiswa terbaik. jika membaca dengan baik cerita dari pak awang diatas, maka sebenarnya semua pertanyaan mulya sudah terjawab.
      https://aveliansyah.wordpress.com/geologi/

  11. suwun pak akan ceritanya

  12. yusuf says:

    Subhanallah kisah pak awang ini, salut dengan kecintaannya pada geologi. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kekuatan agar bisa terus berkarya untuk tanah air tercinta.
    Thank’s to avel udah share cerita ini.

    salam, yusuf
    geologi unpad

  13. winnie says:

    ngeliat artikel ini saya jd semangat lg.
    jujur pa,saya dari kecil cita-cita masuk kedokteran tp trus gagal ga tw knp sy lgs tertarik geografi.pas bgt ada artikel ini,minat saya ke geology mkn bsr.

    makasi pa🙂

  14. hant.lupus says:

    Terimakasih pak Awang..
    Dengan membaca tulisan ini saya menjadi tmbah yakin bahwa saya bisa belajar di geologi..tulisan ini sangat mengInspirasi saya..
    Semoga kami bisa menjadi penerus pak Awang nantinya..

    Salam kenal saya..(geologist muda undip)

  15. Herman Moechtar says:

    Luar biasa, kebetulan saya baru pulang dari PIT IAGI Lombok. Saya ikuti dari waktu kewaktu presentasi makalah yang sudah barang tentu tidak dapat saya ikuti semua. Hal ini baru pertama kali saya lakukan dalam PIT IAGI dengan no anggota 602 sejak 1979. Kemudian saya baca semua abstrak karena kebetulan banyak waktu luang buat saya lakukan itu. Apa kesimpulan saya: Pembicara-pembica kunci (kebetulan bidang saya mengenai (cycle-cyclelan itu)memang baik sekali apabila dikaitkan dengan konsep kebumian moderen. Akan tetapi, kerangka pikir dan pondasi pemahamannya masih jauh dari harapan penerapan. Begitu pula makalah-makalah yang disajikan terlalu normatif dan standar, meski ada beberapa makalah yang dianggap sebagian orang wah, tapi sebetulnya salah kaprah dengan melanggar rambu-rambu terminologi sebagai tempat berpijak menuangkan pemikiran. Namun demikian, terselip luar biasa 2 (dua) buah makalah yang betul-betul memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat. Itulah sebuah nilai dari hasil sebuah penelitian (SEJAUH MANA KONTRIBUSINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN MANUSIA). Dan kebetulan, kedua makalah tersebut disampaikan secara baik dan sempurna oleh pak Awang.

    Satu hal yang sering kita lupakan dalam kancah keilmiahan, yaitu: KEJUJURAN. Tanpa kejujuran sia-sialah penelitian itu, dan kita tidak akan pernah besar.

    Akhirnya yang dapat saya sampaikan, mohon untuk rekan-rekan IAGI dan selamat buat p Awang.

  16. Zumhan Wicaksono says:

    Luar biasa vel. makasih sharing ilmunya.
    Saya masih harus banyak belajar dan terus belajar

  17. ahmad says:

    ak prnah baca ini mas, ini ktemu lagi, nmbah smangat lgi. Pa andang& p awang, 2 geologist langganan unsoed, paling getol d undang u/mngisi sminar+ekskursi. tulisan, slide2, pemaparan beliau ber-2 sangat khas, berkesan, membekas, fokus & plg menyita perhatian, smua mengakui. Sperti tdk mau khilangan 1 kt yg disampaikan dr beliau, ak smpat lihat bbrap psrta yg mngambil air minum d bwah kursinya, tp kplanya ttp mgnhadap k arah p awang, lucu ya…

  18. dini says:

    aveeeell…smgt!!!!

  19. reza says:

    saya mau tanya mas,,apa kalau saya masuk dalam teknik geologi di manapun,,,apakah biaya praktk atau yang lain2 mahal mas???

    • aveliansyah says:

      jangan khawatir masalah biaya,, jadilah mahasiswa yg mandiri. saya dulu juga tidak punya biaya kuliah, ada banyak beasiswa di lingkungan kampus, saya hanya membayar kuliah selama 2 semester saja, sisanya gratis sampai lulus, bahkan saya bisa hidup tanpa kiriman uang dari orang tua selama 2 tahun kuliah di semarang.
      Tuhan pasti membantu umatnya yg menuntut ilmu

  20. sasha says:

    SAYA SASHA..BUTUH CONTACT PERSON UNTUK BAPAK AWANG TERIMAKASIH

  21. Adit says:

    Sekedar cerita saja.. tahun pertama saya kuliah di geologi Unpad, saya ngga tau namanya Pak Awang yang mana.. senior2 begitu mengidolakan beliau.. jelas ada pemikiran, seberapa hebat Pak Awang kalau sampai skrg masih jadi bahan pembicaraan..

    Pada akhirnya saya tahu dia ketika saya membaca CV nya yang “wow!’… kebetulan saya juga senang menulis; kemudian saya berpikir, kalau saya menghasilkan 3 publikasi per tahun pun ngga bisa mendahului dia smp akhir hayat nanti :))

    Saya ingat Pak Awang pernah berpesan kalo abstrak yang tak lolos di suatu kepanitiaan bukan akhir dari segalanya, buatlah full paper kalau nanti ada ajang menulis yang lainnya.. abstrak yang tak lolos bukanlah suatu kegagalan, yang gagal adalah ketika abstrak yang kita tak lolos, kemudian kita berhenti menulis..

    Adit
    GeoUnpad

    Semangat terus vel!

    • mulia says:

      Saya sangat berharap bisa menghadiri course Pak Awang di geologi ugm bulan ini. Tapi kenyataannya saya berhalangan hadir. Saya berharap ada kesempatan lain Pak.
      Salam Geologi dan semoga Pak Awang terus menginspirasikan lebih banyak calon geologist.

    • aveliansyah says:

      thanks buat sharingnya brur, menambah cerita tersendiri tentang sosok pak awang dan pengagumnya. sukses juga utk karir ente brur!😀

  22. Helder says:

    that’s amazing….great story of life….semoga ini bisa menjadi inspirasi serta motivasi bagi kita semua..bravo all geologist…

  23. Nasrul says:

    Saya kagum sekali dengan semangat dan ketelatenan Pak Awang. Mudah-mudahan saya dapat mencontohnya.

    Just asking : 1. Apakah ukuran kesuksesan dan komitmen seorang scientist diurut berdasarkan jumlah karya yg dipublikasi ?
    2. Kenapa Pak Awang hanya mau belajar otodidak dan merasa mengkhianati diri sendiri kalau ambil gelar master/doktor ?

  24. sigit says:

    Kang awang masih ingat, kita pernah sama sama di tengah Hutan Kalimantan tahun 90-91 waktu kang awang dan saya di murung pudak, saya kangen dan kepingin berbagi cerita bersama, kapan kapan ngopi bareng (08128066315)

  25. ryan aristo says:

    waaww, awesome, cuma kata itu yg terpikirkan waktu bacanya pak..

  26. Amien N says:

    Bapak Awang saya ingin minta tolong agar Bapak berkenan untuk menjelaskan kepada saya mengenai antklin dan antiform. Dimana letak perbedaan diantara keduanya?.. Sementara dalam bagian lain dlm geologi struktur juga saya jumpai struktur antiklin yang berupa antiform (antiformal syncline) dan ada pula sinklin yang berupa sinform.Mohon penjelasannya. mautr nuwun

  27. Sungguh cerita yg menarik sekali pak. Saya salut dengan kegigihan anda. Saya sendiri sudah tertarik untuk mempelajari geologi sejak kelas 3 smu. Namun takdir berbicara lain. Saya sudah berusaha selama 2 tahun mengejar mimpi saya kuliah di teknik geologi namun selalu gagal. Akhirnya saya memutuskan untuk memendam mimpi saya dan sekarang saya kuliah di teknik fisika. Sesuatu yg sangat bertolak belakang dengan hasrat dalam diri saya. Jujur saya sendiri belum bisa mengikhlaskan begitu saja. Walaupun sekarang di teknik fisika saya bisa bertahan. Semua saya lakukan atas dasar rasa tanggung jawab saya terhadap orang tua yg telah membiayai saya. Saya sangat ingin sekali belajar lebih banyak tentang geologi. Saya sempat berpikir seharusnya saya tetap mencoba kuliah di geologi. Tapi setelah membaca cerita bapak saya mulai berpikir seharusnya saya tidak menyerah. Masih banyak kesempatan. Bisa membaca lebih banyak dan belajar dari buku dan pengalaman orang lain seperti yang bapak lakukan. Terimakasih telah menginspirasi. Semoga mimpi saya dapat terwujud saat s2 nanti. Amiin

  28. reza says:

    sebelumnya saya belum tau siapa pak awang, saya mahasiswa baru di geologi ITATS
    sebuah kisah yang membuat saya ikut kagum dengan sosok pk awang

    salam kenal
    Geologi ITATS
    “ATLAS”

  29. gan?, koq sarjana geologi di sebut engineer bkannya mereka yg lulus jrsan geologi di sebut geologist ya?

    • aveliansyah says:

      karena di indonesia jurusan geologi masuk di bawah fakultas teknik (jadinya teknik geologi). tapi kalo udah lulus, walaupun gelar kita Sarjana Teknik (ST), tapi hampir gak ada yang manggil kita engineer, karena di luar sana kita dipanggil geologist (dan seluruh dunia juga memanggil ahli kebumian dengan panggilan itu)

  30. Redho says:

    Dang avel, terimakasih banyak sudah berbagi tulisan yang sangat menginspirasi ini. Kemudian yang menarik hati saya, adanya penjelasan langsung dari pak awang tentang IPK beliau. Saya bingung kenapa dengan kesungguhan, kecintaan dan konsistensi yang luar biasa (bayangkan sejak SMP) malah dapat IPK seperti itu. Menurut saya, mungkin disitu letak tantangannya. Kenyataan itu semoga meluruskan anggapan dari teman teman “bahwa banyak kok orang dengan IP kecil bisa sukses”. Masalahnya IP yang didapat itu dengan usaha apa? Apakah usaha dengan bersungguh-sungguh atau usaha apa adanya bahkan apa tanpa usaha.
    Salam kenal
    Calon Geologist

  31. ges says:

    punten pa mau nanya, kalau mau baca buku2 koleksi bapak bisa didapat dimana yah? terimakasih

  32. Mike says:

    sangat sangat menginspirasi saya>
    terima kasih pak Awang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: