Chaining Method for Sedimentology

Mumpung masih kerja di kantor, dan sebelum “dicampakkan” ke Kalimantan, gw mau berbagi cerita aja nih, khususnya masalah sedimentologi yg bakal gw gelutin selama 2 bulan ke depan.
Briefing pertama :
Pematerinya Pak Yudi dari GDA/ ETTI. Materinya tentang chaining. Opo kui????
Yaaahh,, simple nya sih, sama kayak MS (measuring stratigrafi), bedanya.. kolom2 MS tadi kita ikat satu sama lain pada titik2 MS yang lain, intinya kita buat menjadi 1 mata rantai (chain) yang saling berhubungan.
“pengendapan sedimen itu mempunyai irama, dan irama sedimentasi itu selalu berbeda-beda”, wuiiiihh sedap betul itu kata2nya… gw suka banget dah…


Ada 2 metode pengendapan yang harus diingat, yang pertama traction, yang kedua gravity. Kuncinya itu aja deh… traksi itu bekerja jika ada arus, sedangkan gravity itu akibat gravitasi. Contoh traksi itu pada pengendapan berukuran halus fine sand, medium sand dan pasti akan membentuk struktur cross bedding/ cross laminae karena yang membentuk adalah arus. Sedangkan gravity, itu terjadi pada material yang sangat halus seperti shale, karena shale itu terbentuk pada arus yang sangat tenang, dan pengendapannya tanpa arus (gravity flow), selain itu gravity flow tidak membentuk struktur sedimen cross stratification, akan tetapi membentuk tipe pengendapan bouma yang disebabkan oleh slump (turbidity current), selain itu fragmennya relative besar dan sortasi buruk atau bahkan tidak berpola.
Ada clue disini, yaitu jika pasir kasar itu gak mungkin terbentuk ripple/ cross stratification, apalagi kerikil…
Traksi sendiri membentuk urutan struktur dari lower flow regime (ripple-megaripple-dunes) sampai ke upper flow regime (plane/ planar beds – antidune – chute n pools – turbidity current).
Sudut yang dibentuk antara bidang planar dengan cross bed adalah 15-45 derajat.

Ada 3 penciri lingkungan pengendapan yang dipengaruhi arus pasang-surut (tidal), yaitu :
1. lenticular, ciri2nya berwarna gelap dan dominan semuanya mud (mud flats)
2. wavy, ciri2nya terdapat sand yang tipis2
3. flaser, ciri2nya berwarna terang dengan dominan sand

Naaaahhh sekarang kita masuk ke IRAMA pengendapan sedimen,
Intinya yang harus kita temukan di lapangan adalah :
Finning? / coarsening? / blocky? / thinning? / thickening?/ sisipan? / perselingan???

Tahapan kita sebagai sedimentologist dalam melakukan chaining adalah :
1. tentukan kita itu berjalan menuju batuan tua atau muda (younging/ olding)?
2. ukur strike n dip batuan
3. tentukan IRAMA pengendapan
4. cari burrow
5. gambar deh

Tau gak penyebab terjadinya coarsening upward pada pengendapan delta? Karena itu terjadi pada lingkungan yg semula confined menjadi unconfined atau terbuka, sehingga dimuntahkanlah semua sedimen tadi keluar, sama halnya dg pembentukan crevasse splay.

hmm.. udah dulu ya…
mau istirahat, tadi seharian pre-field di sungai cipamingkis bogor, besok mau input data dikantor, and then.. goes to borneo at tuesday

One Response to Chaining Method for Sedimentology

  1. JeommaRaite says:

    Fantastic… very amazing theme. I will blog about it as well.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: