Meneropong Indonesia Timur

“Cadangan minyak bumi terbukti saat ini diperkirakan sebesar 9 miliar barel dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 miliar barel per tahun. Maka, cadangan tersebut dapat habis dalam waktu sekitar 18 tahun,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana pada Seminar Nasional Ketahanan Energi Nasional dan Perubahan Iklim di Jakarta.” (sumber : metrotvnews.com)

Jika menilik kutipan berita di atas, maka pada tahun 2028 minyakbumi di indonesia akan habis. Benarkah demikian???

teringat ketika pada tahun 2005, saya membaca artikel yang menyebutkan bahwa pada tahun 2015, minyakbumi di Indonesia akan habis! seiring berjalannya waktu, tahun 2009 Indonesia mencatat nilai produksi sebesar +900.000 barrel oil per day (sumber : http://esdm.go.id/), sehingga rentang waktu habisnya minyakbumi di Indonesia diperpanjang menjadi 2028.

CREATIVE EXPLORATION

sejak tahun 2004, Indonesia menjadi negara net-importir minyak, produksi minyak Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Berbeda halnya dengan produksi minyakbumi yang terus menurun, produksi gasbumi terus menanjak dari tahun ke tahun, jika produksi minyakbumi mencapai puncaknya pada tahun 1970-1990an, maka nilai produksi gasbumi diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030 (santi,2010), sehingga diversivikasi energi merupakan harga mutlak yang harus dilakukan dalam menghadapi krisis minyak ini, perlahan kita kurangi ketergantungan kita terhadap minyakbumi.

Teringat judul seminar yang saya dan kawan-kawan HMTG MAGMADIPA adakan 2 tahun yang lalu, “Energy Crisis Solution : Creative Exploration of Petroleum, and Development of Alternative Energy” , seminar yang mengusung tema tentang krisis energi, kami memandang pengembangan energi alternatif dapat menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan kita terhadap minyakbumi, akan tetapi kami tidak bisa menyangkal bahwa sampai beberapa tahun kedepan,minyakbumi masih akan menjadi primadona energi di dunia, sehingga solusi berikutnya adalah creative exploration.

Ketika anda bertanya kepada seorang geologist “where oil is found?“, maka jawabannya adalah “oil is first found in the head of Geologist“. Filosofi tersebut mengajarkan kepada kita bahwa minyakbumi akan selalu ditemukan ketika kita mau terus berpikir dan bereksperimen dalam mencari minyakbumi. Mengutip apa yang pernah dituliskan Andang Bachtiar, oil is found in the positive optimistic mind of peoples, kreativitas, ilmu, dan didukung sifat optimis akan membuat umur produksi minyak di Indonesia semakin panjang.

KONDISI CEKUNGAN MINYAKBUMI INDONESIA

IAGI dalam publikasinya tahun 1985 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan sedimen, 22 cekungan terletak di Indonesia bagian barat (Sumatera, Natuna, Jawa, Kalimantan) dan 38 cekungan terdapat di Indonesia bagian timur, akan tetapi sampai saat ini eksplorasi dan eksploitasi minyakbumi masih difokuskan di wilayah Indonesia barat. dari 22 cekungan yang terdapat di Indonesia barat, hanya ada 2 cekungan yang belum pernah dilakukan pemboran. Jika dibandingkan dengan potensi cekungan yang dimiliki Indonesia timur, dari 38 cekungan terdapat 20 cekungan yang berstatus undrilled. Jika dilihat dari persentase produksinya, 50% dari jumlah cekungan di Indonesia bagian barat telah diproduksi dan 14% yang belum dilakukan drilling, sedangkan di Indonesia bagian timur hanya 11% cekungan yang di produksi dan masih ada 50% cekungan yang berstatus undrilled (sumber : Satyana, 2005)

Dari fakta diatas, seharusnya Indonesia mulai meneropong jauh potensi hidrokarbon Cekungan Indonesia Timur, akan tetapi kenapa hal tersebut belum dilakukan? padahal produksi cekungan Indonesia Barat semakin menurun setiap tahunnya. Mungkin fakta dibawah ini akan menjawab pertanyaan mengapa Indonesia Timur masih belum banyak disentuh.

Cekungan Indonesia Barat :

  1. Producing = 11 basin
  2. Drilled with discoveries or show = 4 basin
  3. Drilled, no discoveries = 4 basin
  4. Undrilled = 2 basin

Cekungan Indonesia Timur :

  1. Producing = 4 basin
  2. Drilled with discoveries or show = 5 basin
  3. Drilled, no discoveries = 10 basin
  4. Undrilled = 20 basin

(Sumber : Satyana, 2005)

Fakta diatas bisa jadi merupakan alasan mengapa para pemain industri migas tidak berani menyentuh cekungan Indonesia Timur terlalu jauh, karena persentase keberhasilan masih sangat kecil, sehingga mereka lebih memilih untuk bermain aman saja di bagian barat Indonesia. Dari 172 wilayah kerja, hampir semuanya terpusat di Sumatera, Utara Jawa, Natuna, Kalimantan Timur, dan untuk wilayah timur, kegiatan eksplorasi dan produksi masih terfokus pada Kepala Burung Papua, belum ada wilayah kerja yang bermain di Laut Aru yang memiliki banyak cekungan besar. Harus diakui memang, kendala utama dari kegiatan eksplorasi produksi di Indonesia Timur adalah dari segi infrastruktur yang kurang memadai, cekungan tersebar di lingkungan laut dalam, dan kekurang-pahaman geologi daerah tersebut menjadikan tantangan besar buat para explorationist dalam meningkatkan jumlah penemuan lapangan minyak baru. Indonesia membutuhkan banyak perusahaan seperti In*** yang berani bermain di remote area dengan membawa teknologi eksplorasi produksi minyak yang sangat canggih.

PALEOZOIC-MESOZOIC PLAY

Penemuan hidrokarbon di Bintuni basin pada batuan berumur Paleozoik-Mesozoik memberikan wacana baru bagi paraexplorationist bahwa ada wilayah Indonesia Timur memiliki play yang berbeda dengan Indonesia Barat. Jika di Indonesia Barat minyakbumi ditemukan di batuan berumur Tersier, maka Indonesia Timur (tidak hanya) memiliki reservoir berumur tersier, tetapi juga berumur paleozoik-mesozoik. Lalu pertanyaan berikutnya adalah :

     

  1. Seberapa besar potensi paleozoic-mesozoik play di Cekungan Indonesia Timur?
  2. Bagaimana petroleum systemnya?
  3. Apa yang menjadi perbedaan mendasar dengan cekungan tersier di Indonesia Barat?
  4. Bagaimana peluang pengembangan Cekungan Indonesia Timur di masa depan?
  5.  

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya jawab setelah saya mengikuti seminar “Paleozoic Mesozoic Potential in Eastern Indonesia” oleh Pak Darmawan samsu besok pagi.

Walaupun Indonesia memiliki 60 cekungan, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah “tidak semua cekungan sedimen tersebut merupakan cekungan minyakbumi, tidak semuanya yang terisi minyakbumi”, harus ditinjau terlebih dahulu petroleum systemnya.

Salam,

Aveliansyah

yang sedang belajar GEOLOGI

di Universitas Diponegoro

About these ads

4 Responses to Meneropong Indonesia Timur

  1. aveliansyah says:

    Hassa At Tubany :
    ya mungkin bener juga yg bilang habis di tahun 2028,,lha yg bilang kan bukan geologist..jadi di kepalanya ya ga ada minyak..
    adanya itung2an APBN…
    hehehe
    19 November at 10:11 · Like

    Arief Satrio Prihanasto :
    Santi tu sapa vel?
    Itu jumlah pembagian basinnya dah bener ya?
    Kog indonesia barat jd cma 21 dan indonesia timur jd 39?diawal barat 22,timur 38..
    Nice inpo Gan..!
    Kan yg dicari yg menguntungkan dulu,it’s all about money not science..hehe
    19 November at 11:23 via Facebook Mobile · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    arip : yg bner 22 di barat, 38 di timur rip, maap,ngitungnya manual dari peta cekungan, udah malem, jadi rada ngantuk gitu,, haha.. tapi udah di revisi lagi sih, IAGI tahun 90an (kalo gak salah) membagi jadi 66 cekungan, tapi kurang begitu …See more
    19 November at 15:15 · Like

    Hassa At Tubany :
    ‎”kebutuhan akan men-drive orang untuk bergerak..”
    ya berarti emang kebanyakan watake gitu.vel..
    seringnya bikin paper kalo ada call for paper tok..
    itu aja,,kadang kalo jadi tuan rumah..
    hehehe
    …See more
    19 November at 19:40 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    seandainya yang di hasilkan itu minyak bukan gas… maka akan cepat di eksploitasi… approvalnya development wellnya sumur minyak kan lebih mudah… sehingga untuk kasus indonesia timur perlu fasilitas pegolahan gas, dan fasililitas penun…See more
    19 November at 19:49 · Like

    Aveliansyah Bengkulu:
    hassa : tenang sa, masih kok.. sedang meniti karir untuk itu, sekarang lagi nyari2 tim sukses,, koe salah satunya yo, hahaha..
    pri : wah, tenanan koe ndes?? mosok iyo? aluvium kuarter kah??
    ngapusi ah.. kecuali aluvium fan tersier.. hehe
    20 November at 18:14 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    lha mulane golekono ning smg bawah kono…
    20 November at 18:15 · Like

    Hassa At Tubany :
    pernah ada g nemuin kasusnya ga pri..?

    nek ga ada teorinya..kiro2 logikane piye,pri..?

    share donk2..hehehe…
    20 November at 18:23 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    hehehehe… aku rung ngerti…
    20 November at 19:06 · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    waah,, ngeri ki teori prihatin,, berpikir diluar kotak ki, haha,,
    btw aku janji bakal jawab 4 pertanyaan diatas sepulang dari acara coursenya pak darmawan samsu yo,, oke, jawabannya gini :
    1. potensi Cekungan Indonesia Timur masih sangat besar, dan potensi tersebut berupa gas. potensi gas yang tersimpan mencapai 66-119TCF. cadangan tersebut ditemukan pada batuan berumur mesozoik, akan tetapi termasuk kedalam tertiary petroleum system.
    “tertiary system on mesozoic basin”
    2. petroleum systemnya sendiri berupa marine shale dan coal yg berumur jura-permian, reservoir menumpuk ketika terjadi subsidence pada oligosen. petroleum system baru terbentuk ketika terjadi kompresi dari lempeng pasipik yang tertahan oleh australian craton dan membentuk pegunungan lipatan (lembulu fold), sehingga menciptakan cekungan yang besar akibat dari proses tumbukan tadi.
    ‎3. yang menjadi perbedaan mendasar dengan cekungan tesier di indonesia barat adalah “isi” dari cekungan di timur didominasi oleh gas, karena source rocknya merupakan tipe kerogen III, yaitu penghasil gas. walaupun petroleum system sama-sama berlangsung pada tersier, akan tetapi pada indonesia timur cekungannya berumur mesozoik.
    4. penemuan lapangan abadi di NW Australia basin, merupakan suatu prestasi besar explorationist, penemuan ini membangkitkan semangat untuk terus melakukan eksplorasi di wilayah timur. dan berdasarkan beberapa bukti lain yang ditemukan pada onshore dan offshore Australi, serta sibumasu thailand, membuat explorationist terpacu untuk mencari lebih dalam lagi, walaupun harus menghadapi resiko suhu dan temperatur yang semakin tinggi.
    20 November at 19:58 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    tapi mungkin sa…. seperti gas rawa … coba dehnanya ando ko…
    20 November at 20:15 · Like

    Ragil Pratiwi :
    ketika ada orang nanya migas itu dimana?

    geologist unconventional jawab : di puncak antiklin, sistem patahan, dsb

    geologist sekarang : migas itu ada di otaknya geologists
    …See more
    21 November at 08:48 · Unlike · 1 person

    Prihatin Tri Setyobudi :
    ‎@ragil –> mosog sih…. kayaknya disimpen di hard disk komputer deh… punya otak tapi tidak diterjemahkan di format digital dengan koordinat x,y,z… lha dalah….
    21 November at 09:01 · Like

    Ragil Pratiwi :
    hahahaa
    Itu kata pak muharram pertamina ep mas,wkt ngsi lecture kmrn,hehe
    21 November at 11:01 via Facebook Mobile · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    ouw… salam buat pak mjp..

    geologist unconventional tu maksudnya apa tho? Geologist sekarang maksudnya siapa?
    21 November at 12:31 · Like

    Pasca Siburian :
    nice…
    21 November at 16:28 · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    tiwi : pasti seru yah acaranya pak muharram, mantab! ditunggu acara2 menarik lainnya
    pri : ketoke geologist conventional kali yo? hee
    pasca : thanks bro :D
    21 November at 17:41 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    lha ngertiku… exploration geologist, development geologist, operation geologist… opo ya ki kamsudte… tak tag ke foto ku ah kowe vel karo ragil…da gambar lucu tentang geologist..
    21 November at 18:19 · Like

    Andrew Jo :
    bang avel, maksudnya ‘cekungan berumur mesozoic tapi petroleum system-nya berlangsung ketika tersier’ itu gimana ya..?

    btw, tulisannya bagus!! :)
    21 November at 18:56 · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    pri : hahha,, wis tak delok potone pri, lucu lucu.. :D
    bang Jo : wah suatu kehormatan nih di comment sama geophisics UI, makasih banyak bang jo, :D
    maksudnya, sedimen2 yang diendapkan pada mesozoik, bakal menjadi “calon reservoir”, yang akah terisi gas ketika pada oligosen, karena pada saat itu terjadi compression lempeng pasipik, kemudian australian craton berperan sebagai penahan tumbukan tersebut, mengakibatkan sedimen mesozoik tadi semakin turun, dan barulah petroleum syestemnya terjadi.
    *lebih kurang begitu mungkin yah, :P
    21 November at 20:19 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    jangan salah… si jo ni dah mau ke US ni S2… kapan Jo?
    21 November at 20:21 · Like

    Andrew Jo :
    haha.. saya s2 dengan abang2 di sini dulu aja..

    bang, maksudnya ‘petroleum system terjadi’ itu yang nanti dicatat ke dalam event chart ya..? Jadi petroleum system itu terbentuk (dimulai) saat reservoir mulai di-isi..?

    Kembali ke petroleum system indonesia timur, dikatakan bahwa umur batuan mesozoic, tapi tertiary pet.system, apa ini maksudnya charging dimulai pada zaman tersier?

    mohon pencerahannya bang, awak belum begitu paham -.-

    bung pri, gimana kabar anda skrg? lama tak jumpa!
    21 November at 20:29 · Like

    Prihatin Tri Setyobudi :
    biasa Jo… kalo dah semester atas gini masih sibuk ngurusi TA…
    21 November at 20:34 · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    bang jo : wah wah, merendah bgt nih bang jo, jadi tak enak awak.. :D
    klo pada mesozoik, itu cekungan hanya terdiri dari elemen2 yang tidak mendukung satu sama lain, namun ketika sudah masuk zaman tersier, muncul lah struktur, pemanasan source rock, dan trap-trap mulai terbentuk,,
    pri : ngerii kali bang jo kita ini yak, haha,, udah mau ke US aja.. mantaab, yg penting sering2 bagi ilmu ke kita aja..
    21 November at 20:39 · Like
    Andrew Jo :
    aha! ngerti dah skrg.. thanks bung avel, ditunggu tulisan berikutnya!

    loh siapa yg mau ke US? ~.~

    pri, good luck TA-nya!
    21 November at 20:52 · Like

    Aveliansyah Bengkulu :
    oke oke jo, sukses juga ama S2 nya, makasih udah berkungjung :D
    21 November at 20:54 · Like

  2. likewati says:

    aku bukan seorang geologist tapi aku di tantang untuk menulis tentang sejarah minyak di papua kepala burung.please…. aku di bantu ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 858 other followers

%d bloggers like this: