Situ Gintung : Penyebab dan Solusinya

Abstrak
Jumat tanggal 27 Maret 2009, sekitar jam 04.30 WIB terjadi banjir bandang di daerah Situ Gintung Kelurahan Cireundeu, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, yang disebabkan jebolnya tanggul Situ Gintung. Kejadian tersebut telah mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia, dan menghancurkan ratusan rumah penduduk.
Jika dianalisis, terdapat 3 faktor penyebab utama dari bencana tersebut, yaitu faktor alam, fisik dan manusia. Hujan lebat yang mengguyur Bogor sejak pukul 16.00 hingga 21.00 WIIB Kamis, 26 Maret 2009 mengakibatkan penambahan debit air pada Situ Gintung yang ketinggiannya mencapai 5-7 meter, sehingga tanggul tidak kuat menahan debit air yang tertampung. Tanggul tersebut telah mulai retak semenjak tahun 2006, akan tetapi pemerintah daerah kurang tanggap terhadap retaknya dinding tanggul tersebut, ditambah lagi tanggul tersebut terbuat dari tanah urug yang belum pernah diturap untuk memperkuat daya dukungnya.
Dibutuhkan rancangan “Rencana Penanganan Bencana Situ Gintung” yang terpadu, yang dapat dijadikan acuan pemerintah daerah dalam menangani bencana Situ gintung tersebut. Secara umum ada 2 langkah penanganan yang harus dilakukan, yaitu penanganan jangka pendek, yaitu dengan terapi obat dan psikis para korban yang selamat, relokasi warga, pembersihan sisa-sisa material banjir, pembuatan drainase, dan memperbaiki tanggul yang jebol. Sedangkan penanganan jangka panjang yaitu dengan pengembalian fungsi daerah hulu sebagai daerah resapan air, mengurangi limpasan air permukaan yang terkonsentrasi di Situ Gintung dengan membuat sumur resapan dibagian hulu Sungai Pesanggrahan, manajemen permukiman penduduk.
Dari rancangan tersebut, pemerintah daerah diharapkan lebih memperhatikan konsep tata ruang kota yang baik, seperti izin mendirikan bangunan hanya diberikan kepada rumah dengan jarak minimal 50 meter dari badan tanggul. Sumur resapan merupakan salah satu teknologi tepat guna yang dapat dilakukan, sehingga diharapkan pemerintah membuat kebijakan untuk mewajibkan membuat sumur resapan bagi penduduk yang mendirikan bangunan minimal seluas 50 m2 wajib membuat sumur resapan seluas 2 m2.

Kata kunci : Situ gintung, Sumur resapan, Grouting

Pendahuluan
Jumat tanggal 27 Maret 2009, sekitar jam 04.30 WIB terjadi banjir bandang di daerah Situ Gintung, Kelurahan Cireundeu, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, yang disebabkan jebolnya tanggul Situ Gintung. Jenis bencana berupa aliran bahan rombakan (debris flow) yang terjadi akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, akibat pengaruh jebolnya tanggul selebar ± 65 m, yang diikuti dengan gerakan tanah (longsoran) pada gawir tanggul dengan panjang antara 3 – 7 m, lebar antara 3 – 8 m, tinggi gawir antara 1 – 2,5 m dan arah gerakan tanah N 2780 E, N 2830 E dan N 720 E. Secara umum arah aliran banjir bandang (debris flow) adalah N 410 E. (www.vsi.esdm.go.id)

Analisis Penyebab Runtuhnya Tanggul Situ Gintung
Secara umum runtuhnya tanggul Situ Gintung disebabkan oleh 3 faktor, yaitu faktor alam, bangunan tanggul dan human error.
1. Faktor Alam
Terjadi hujan lebat yang mengguyur bagian hulu di Bogor sejak pukul 16.00 hingga 21.00 WIIB Kamis, 26 Maret 2009. Akibatnya, air terkonsentrasi dan berkumpul di Pesanggrahan dan tidak tertampung pada saluran pelimpahan (spill way) di tanggul Situ Gintung. Tangerang hanya mampu menampung air setinggi 2 – 3 meter. Namun, pada Jumat dini hari, 27 Maret 2009, air meluap dengan ketinggian mencapai 5 – 7 meter sehingga melewati tanggul.

2. Faktor Fisik
Tanggul tersebut terbuat dari tanah urugan, karena pada awalnya tanggul tersebut dibuat oleh belanda diperuntukkan bagi irigasi air. Air tersebut akan digunakan untuk mengairi sawah-sawah penduduk yang ada dibawah Situ Gintung, namun sekarang Situ tersebut telah beralih fungsi menjadi daerah konservasi air, sawah-sawah tersebut sudah berganti dengan perumahan penduduk.
Karena tanggul tersebut dibuat dari tanah urug, maka debit air yang melimpas sampai ke permukaan tanggul akan meresap ke dalam tanah urug tadi dan membuat tanah urug tersebut menjadi jenuh air sehingga tanah menjadi gembur dan tahan geser berkurang.

3. Faktor human error
Pada tahun 2006 sampai 2007 terjadi beberapa kali retakan pada baadn tanggul Situ Gintung, akan tetapi tidak ada tindakan berarti yang dilakukan. Curah hujan yang meningkat seharusnya bisa memperingatkan pemerintah setempat akan bahaya retakan dinding tanggul Situ Gintung tersebut.
Izin mendirikan bangunan pada daerah sekitar tanggul seharusnya tidak dilakukan. Selain itu masyarakat, yang sudah terlanjur menempati daerah rawan tersebut harus diberikan sosialisasi tentang bahaya yang terjadi jika tanggul jebol, sehingga korban jiwa dapat diminimalisir.

Kondisi Geologi
Morfologi daerah bencana berupa daerah yang relative datar dengan lembah Situ Gintung. Daerah hilir berupa lembah relative bergelombang lemah yang dibatasi oleh lereng terjal (tanggul situ). Daerah ini merupakan lembah aliran sungai Pesanggrahan yang secara umum merupakan lembah yang relatif datar.
Batuan dasar daerah bencana berupa batu pasir lempungan, berwarna coklat hingga coklat keabuan, berukuran pasir kasar hingga lempung, kurang kompak, terpilah jelek – sedang. Timbunan tanggul berupa lempung lanauan, berwarna coklat kemerahan, lunak, kurang kompak, plastisitas sedang; sedangkan endapan sedimen situ Gintung berupa lumpur, berwarna abu-abu hingga abu-abu kecoklatan, sangat lunak.
Tata lahan daerah bencana berupa waduk (situ), pemukiman, dan kebun campuran. Situ Gintung terletak di tengah yang di kelilingi oleh pemukiman penduduk dan dijadikan sebagai obyek wisata. Pemukiman penduduk yang padat terutama terletak di daerah hilir dari waduk (situ) sedangkan di sekitar waduk cukup padat dengan perumahan, perkantoran, bangunan sekolahan dan aktivitas penduduk.

Rencana Penanganan Bencana Situ Gintung
Secara umum, ada 2 penanganan bencana yang harus dilakukan, yaitu penanganan bencana jangka pendek dan penanganan bencana jangka panjang. Kemudian dari penanganan bencana tersebut, akan dihasilkan rencana penanganan bencana Situ Gintung, sehingga dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan penanganan bencana Situ Gintung.

Penanganan Jangka Pendek
Penanganan ini dilakukan dalam waktu singkat sesaat setelah terjadinya bencana, sehingga kekacauan tidak berlangsung terlalu lama. Ada 2 faktor yang harus diperhatiakan, yaitu faktor manusia dan tanggul Situ Gintung.
Dari sisi manusia, trauma pada korban selamat yang memiliki pengalaman langsung dan menyaksikan kejadian yang mengancam kematian, sehingga dibutuhkan terapi psikis dan terapi obat dalam hal mengurangi trauma pada korban yang selamat. Selain itu pembersihan lingkungan harus segera dilakukan agar para korban selamat terhindar dari wabah penyakit.
Dari sisi fisik, khususnya penanganan tanggul Situ Gintung, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu pembuatan drainase untuk menyalurkan air yang tumpah dari situ ke Sungai Pesanggrahan, segera memperbaiki pintu air agar bisa berfungsi dengan baik.
Penanganan Jangka Panjang
Penanganan ini dilakukan beberapa waktu setelah terjadinya bencana dan setelah kondisi wilayah bencana sudah mulai normal. Ada 2 faktor yang harus diperhatikan, yaitu faktor alam dan tata ruang.
Dari sisi pengelolaan alam, maka yang harus dilakukan adalah dengan mengembalikan fungsi daerah tersebut sebagai daerah resapan. Yang menjadi salah satu penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung adalah tanggul tersebut tidak dapat menahan debit air lebih dari 2 juta meter kubik, sehingga diperlukan rekayasa geologi agar debit air yang masuk ke Situ Gintung tidak melimpah.
Penanganan bencana alam harus dilakukan secara terpadu. Untuk menahan debit air berlebih yang ditampung Situ Gintung, maka revitalisasi harus dilakukan dibagian hulu sungai. Dalam menghadapi permasalahan tersebut, yang harus dilakukan adalah dengan menahan debit air berlebih yang turun ke wilayah Situ gintung. Solusinya yaitu dengan pembuatan sumur-sumur resapan di daerah bagian hulu sungai.
Keunggulan dari pembuatan sumur-sumur resapan ini adalah, biayanya yang murah, tidak membutuhkan lahan yang luas, dan pembuatan sumur-sumur resapan ini juga dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan wilayahnya sendiri

Sumur Resapan
Situ Gintung merupakan kawasan resapan air yang sangat penting keberadaanya dalam menahan debit air limpasan yang berlebih. Akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang pesat menyebabkan perubahan tata guna lahan. Banyak lahan-lahan yang semula merupakan hutan/ lahan terbuka sekarang menjadi areal permukiman, dan kampus. Dampak dari hal tersebut adalah meningkatnya aliran permukaan langsung sekaligus menurunnya daya resap air kedalam tanah. Sehingga untuk mengurangi jumlah aliran permukaan (surface run off) dengan cara memaksimalkan penyerapan air kedalam tanah dan kolam-kolam tampungan air situ, danau, kolam buatan dan lain-lain. Akan tetapi jika memilih kolam-kolam tampungan air situ, danau, dan kolam-kolam buatan akan membutuhkan lahan yang luas dan biaya yang besar, Sehingga penulis merekomendasikan sumur resapan sebagai pengendali aliran permukaan karena lebih murah, relatif tidak memerlukan lahan yang luas, serta dapat memberdayakan masyarakat.

Sumur resapan merupakan sumur yang dirancang dengan dimensi tertentu yang berfungsi untuk mengurangi jumlah aliran air permukaan yang diakibatkan oleh hujan.
Secara teoritis fungsi sumur resapan jika dikelola dengan baik adalah sebagai berikut :
1.Sebagai salah satu konservasi air sistem resapan
2.mereduksi jaringan drainase
3.memperkecil probabilitas banjir daerah hilir
4.mempertahankan tinggi muka air tanah,
5.mencegah penurunan kawasan “landsubsidence”
6.Memperdayakan masyarakat dalam pembangunan
7.Membudidayakan pola pikir dalam pelestarian kemampuan lingkungan.
Dengan menghitung debit air limpasan (Q = 0,278 x C x I x A, dengan C: koefisien limpasan ; I : Infiltrasi ; A : Luas DAS) pada lahan hijau (Q1) dan dibandingkan dengan debit air permukaan pada lahan permukiman (Q2), maka kemudian akan didapatkan ∆Q dengan rumus ∆Q = Q2 – Q1.
Jumlah ∆Q tersebut merupakan jumlah debit air permukaan yang harus ditahan agar debit air yang tertampung di Situ Gintung tidak melebihi batas yang sudah ditetapkan, sehingga air pada situ tersebut tidak akan meluap lagi.

Manajemen Permukiman Penduduk
permukiman penduduk yg diperbolehkan sesuai dengan aturan tata ruang adalah 50 – 100 meter dari badan bendung, akan tetapi yg terjadi di lapangan adalah masyarakat mendirikan rumah di bibir tanggul, bahkan dibadan tanggul. selain itu masyarakat juga melakukan pengerukan terhadap badan tanggul di bagian kiri sehingga mengakibatkan tanggul kehilangan kestabilannya.

gambar-tanggul-situ-gintung-yang-dikeruk-warga

peraturan tata ruang harus benar-benar dijalankan, klao sudah begini kejadiannya lalu siapa yg harus disalahkan?? warga yg membangun?? atau pemerintah daerah yg memberikan IMB (ijin mendirikan bangunan).

selain itu, untuk menyiasati kebutuhan penduduk terhadap lahan untuk permukiman, maka pola permukiman vertikal disarankan untuk segera diterapkan, karena dengan demikian akan mengurangi luas tanah yg tertutupi oleh bangunan, sehingga lahan hijau dapat terus dipertahankan.

Dengan berbagai langkah penanganan bencana secara terpadu tersebut, kemudian disusun sebuah rancangan “Rencana Penanganan Bencana Situ Gintung”, yang diharapkan bisa menjadi acuan pemerintah daerah dalam menyusun rencana tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana.

Kesimpulan
Dibutuhkan sebuah rancangan “Rencana Penanganan Bencana Situ Gintung” yang dibuat berdasarkan berbagai sudut pandang secara terpadu, sehingga dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan rencana tata ruang wilayah yang berbasis mitigasi bencana.
Sumur resapan dibuat di daerah hulu Sungai Pesanggrahan dan sekitarnya sebagai penahan laju air limpasan berlebih yang masuk ke Situ Gintung.
Untuk memperkuat tanggul, maka dapat dilakukan grouting pada tanggul yang terbuat dari tanah urugan tersebut.

Rekomendasi
Jangka Pendek :

1.Terapi obat dan psikis para korban bencana Situ Gintung
2.Relokasi warga
3.Pembersihan sisa-sisa material banjir bandang
4.Pembuatan drainase untuk menyalurkan air ke sungai
5.Memperbaiki pintu air
6.Memperbaiki tanggul yang jebol

Jangka Panjang :
1.Pengembalian fungsi lahan daerah hulu Sungai Pesanggrahan dan sekitarnya sebagai daerah resapan air
2.Menahan debit air berlebih dengan membuat sumur-sumur resapan di bagian hulu sungai
3.Memperkuat tanggul yang terbuat dari tanah urug dengan metode Grouting.
4.Penetapan peraturan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), yaitu pembangunan rumah minimal 50 meter dari tanggul untuk daerah Situ Gintung.
5.Kewajiban bagi para pendiri bangunan baru untuk membuat sumur resapan sebagai syarat mendapatkan IMB
6.Membuat regulaasi semacam Surat Keputusan mengenai kewajiban membuat sumur resapan bagi penduduk yang mendirikan bangunan minimal seluas 50 m2 wajib membuat sumur resapan seluas 2 m2.

About these ads

9 Responses to Situ Gintung : Penyebab dan Solusinya

  1. Angga says:

    sangar banget…geologi banget…
    vel,bikin penelitian donk ke Situ Gintung…
    gag mungkin disitu gag ada struktur, analisis strukturnya…

  2. Angga says:

    sangarrrrrrrrrr….geologi banget…
    vel,bkin penelitian ke Situ Gintung donk…gag mungkin disitu gag ad struktur,analisis deh strukturnya…

  3. Assalamualaikum Wr Wb

    Luar biasa Vel. Harusnya karya antum ini di publikasikan secara luas, biar di dengar oleh pemerintah dan selanjutnya bisa diaplikasikan. Ga dikirim ke media atau ke pihak pemerintah vel?

    Tapi satu hal lagi yang menurut saya harus kita garis bawahi dari tragedi Situ Gintung yang lalu. Yaitu robohnya tanggul itu merupakan pertanda bahwa kita harus membangun moral masyarakat termasuk pemerintah. Saya yakin, pasti sudah ada aturannya tentang tata cara mendirikan bangunan khususnya yang berada didekat lokasi seperti Situ Gintung(Bendungan, sungai, dll), namun nyatanya bangunan2 itu tetap berdiri. Memang jika kita dalami lebih lanjut, ini meupakan masalah multidimensional. Disisi lain, tentulah pepohonan yang seharusnya menjadi penahan air, kini sudah banyak ditebas dengan tidak bertanggung jawab. Sungai pun sudah ternoda oleh tingkah polah laku manusia.

    Namun lagi2, moral punya andil yang besar vel. Peraturan yang seharusnya ditegakkan oleh pemerintah, justru dilanggar karena alasan ini dan itu (termasuk uang pelicin, oli kali ya…). Di sisi lain, ada oknum2 tidak bertanggung jawab yang tidak taat kepada peraturan tsb & menjadi sumber bocornya uang pelicin itu ke tangan oknum pemerintah.

    Bang Napi bilang, “Kejahatan terjadi bukan hanya ada niat pelaku, tapi juga karena ada kesempatan!!”
    “WASPADALAH!!!WASPADALAH!!!”

    • aveliansyah says:

      Waalaikumsalam Wr Wb Akh Riza..

      Selamat datang di blog ane..

      Harusnya karya antum ini di publikasikan secara luas, biar di dengar oleh pemerintah dan selanjutnya bisa diaplikasikan. Ga dikirim ke media atau ke pihak pemerintah vel?
      –> Untuk publikasi secara luas yaitu dg memasukkan karya tulis ini di blog, FULL tanpa dibatasi, semua orang bisa ambil tanpa biaya (kalo mau, hehe),. sebenarnya tulisan ini dibuat lebih kurang 1 minggu setelah bencana, Persatuan Himpunan Mahasiswa Geologi Indonesia mengajak anggotanya untuk memberikan SOLUSI buah pemikiran mahasiswa geologi untuk negeri, dan alhamdulilah tulisan ini dipilih sebagai “persembahan dari PERHIMAGI untuk NEGERI”. tulisan ini juga telah banyak diberikan masukan dan koreksi oleh bapak2 dari IAGI, khususnya Pak Imam Sadisun (Head of Graduate Program Department of Geological Engineering ITB), dan resume dari tulisan ini juga sudah dipublikasikan melalui PERHIMAGI (katanya sih ke media masa, tp ane udah gak mantau lagi tuh).

      “Saya yakin, pasti sudah ada aturannya tentang tata cara mendirikan bangunan khususnya yang berada didekat lokasi seperti Situ Gintung(Bendungan, sungai, dll), namun nyatanya bangunan2 itu tetap berdiri.”
      –> bahkan fakta yg ditemukan di lapangan kemarin, tanah yg digunakan sebagai tanggul malah dikeruk warga untuk bikin halaman rumah, hehehe.. bener bgt za, wong yang duduk di pemerintahan ki mesti pinter2, wis ngerti kalo yang dilakukan masyarakat ki salah, hukum yo wis dibuat, tp pelaksanaannya ndak ada, mereka masa bodo.. masyarakat pun harus diberi tahu klo bendungan ndak dirawat, bencanalah akibatnya

      “Namun lagi2, moral punya andil yang besar vel. Peraturan yang seharusnya ditegakkan oleh pemerintah, justru dilanggar karena alasan ini dan itu (termasuk uang pelicin, oli kali ya…).”

      –> lha iki,, sing dadi permasalahan disemua bidang ki yo tentang moral bapak2 pejabat pemerintahan (maap y pak, tp emg mayoritas gt kok), klo mereka semua sadar klo yg paling berat didunia ini adalah memegang amanah, mesti moralnya gak separah ini. (MASA PENJARA KAYAK HOTEL,, lho ini beda kasus, hehe–> baca posting terbaru>

      tetap menjadi solusi, tetap amanah, tetap istiqomah!!
      HIDUP MAHASISWA

      Wassalamualaikum Wr Wb

  4. Austin says:

    makasih banyak yaa bahannya. sangat membantu buat menambah bahan tugas kuliah. hehe

  5. aveliansyah says:

    austin : siip :), semoga bermanfaat

  6. Retno says:

    Pendekatan Ekologi yang sangat lengkap dan bermanfaat.

  7. [...] Situ Gintung : Penyebab dan Solusinya April 2009 8 comments 5 [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 843 other followers

%d bloggers like this: